Archive for laktasi

Menyusui Lebih Dari Dua Tahun

Hingga saat ini banyak sekali anggapan miring ttg ibu yang menyusui anaknya > 1th. Sering kita dengar kalimat ”Kalo anak > 1 th kan dah jelek ASInya”. Atau tak jarang juga terdengar kalimat ”Kalau disusui terus anak jadi manja dan gak mandiri”. Nah benarkah hal ini ? Artikel berikut dirangkum dari beberapa artikel dari La Leche League dan WHO tentang fakta-fakta seputar menyusui anak batita ( hingga umur 3 th).

Ternyata anggapan2 bahwa ASI gak bagus, nyusui anak besar bisa membuat jadi manja dan gak mandiri tsb TIDAK BENAR. Bahwa ternyata kandungan ASI > 1 th memiliki kandungan yang luar biasa bermanfaat utk anak. Yg jelas, ASI tetap memiliki zat imun yang melindungi bayi dari berbagai penyakit. Bahkan satu penelitian menunjukkan bahwa beberapa zat imun meningkat jumlahnya dalam ASI di th keduam sehingga memberikan perlindungan yg lebih besar bagi anak. Belum lagi kandungan gizinya. Pada tahun kedua, kandungan ASI masih mengandung banyak manfaat.

Nah manfaat buat ibu gimana ? Banyak para ahli medis menbuktikan bahwa menyusui dapat memberikan ibu proteksi dari berbagai penyakit. Makin lama ibu menyusui, makin besar proteksi yg diberikan. Ibu dapat terminimalisasi dari resiko terkena kanker payudara, kanker ovarium (indung telur), kanker uterine (rahim), osteroposis, dsbnya.

Benarkah jika anak disusui terus menerus akan membuat ia jadi manja dan gak mandiri ?

Ini juga sama sekali TIDAK BENAR. Justru anak-anak yg disusui hingga ia berhenti sendiri (menyapih dirinya sendiri) lebih mandiri. Kenapa ? karena ia menemukan sendiri kemandiriannya. Ia merasa lebih nyaman dalam menemukan fase tsb. Ingat loh fase psikologis usia batita itu buat anak2 terkadang “mengerikan”. Ia harus belajar utk menerima kondisi di sektiarnya. Dengan menyusui, akan memudahkan anak menghadapi fase tsb dg lebih mudah. Terkadang juga kita memaksakan anak utk mandiri lebih cepat dari biasanya. Padahal di usia ini justru ia butuh ibunya dan ayahnya utk membantunya menemukan rasa percaya dirinya dsbnya.

Jadi menyusui di usia ini justru memenuhi kebutuhan psikologisnya.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan : “Susuilah anak di tahun pertamanya dan susuilah terus selama ibu dan anak saling menginginkan…Makin lama ibu menyusui anaknya, makin memberikan keuntungan bagi ibu dan anak dari segi kesehatannya dan perkembangannya……Tidak ada batasan pasti kapan anak harus berhenti menyusu dari ibunya. Dan TIDAK ADA BUKTI bahwa menyusui anak-anak > 3 th akan membuatnya terganggu secara psikologis ataupun.” (AAP 2005)

Nah kapan anak sebaiknya disapih ? Lagi-lagi ini pilihan yg sangat subyektif. Semua bergantung kepada 3 pihak : ibu-anak-ayah. Selama semua pihak saling menginginkan maka menyusui dapat terus dilakukan. Jika memutuskan utk menyapih, maka lakukanlah dg perlahan dan baik. Hindari penyapihan yg dapat menyakiti hati anak. Ingat selama masa menyusui, terjalin ikatan batin yg kuat antara ibu-anak. Jangan sampai hal ini ”rusak” karena proses penyapihan ini.

Advertisements

Comments (2) »

Kolostrum dan Manfaatnya

Kolostrum (Colostrum) adalah jenis susu yang diproduksi pada tahap akhir kehamilan dan pada hari-hari awal setelah melahirkan. Warnanya kekuningan dan kental. Meski jumlahnya tidak banyak, kolostrum memiliki konsentrasi gizi dan imunitas yang tinggi.

Dalam beberapa hari pertama setelah kelahiran, kolostrum keluar dari payudara untuk diminum bayi. Kolostrum TIDAK BISA diproduksi secara sintetis!

Jumlah kolostrum memang tidak banyak. Kolostrum hanya tersedia mulai hari pertama hingga maksimal hari ketiga atau keempat. Menyusui tidak menyusui, kolostrum tetap ada. Setelah itu, keluar susu peralihan[1].

Manfaat Kolostrum
Berikut manfaat kolostrum[2] [3]:

  1. Kolostrum berkhasiat khusus untuk bayi dan komposisinya mirip dengan nutrisi yang diterima bayi selama di dalam rahim.
  2. Kolostrum bermanfaat untuk mengenyangkan bayi pada hari-hari pertama hidupnya
  3. Seperti imunisasi, kolostrum memberi antibodi kepada bayi (perlindungan terhadap penyakit yang sudah pernah dialami sang ibu sebelumnya).
  4. Kolostrum juga mengandung sedikit efek pencahar untuk menyiapkan dan membersihkan sistem pencernaan bayi dari mekonium.
  5. Kolostrum juga mengurangi konsentrasi bilirubin (yang menyebabkan bayi kuning) sehingga bayi lebih terhindar dari jaundice.
  6. Kolostrum juga membantu pembentukan bakteri yang bagus untuk pencernaan[4].

Maka dari itu, kolostrum memiliki fungsi yang sangat vital dalam 10 hari pertama kehidupan bayi! Meskipun nantinya anda tidak dapat menyusui bayi dalam jangka waktu yang lama, sebisa mungkin kolostrum ini harus diberikan kepada bayi terlebih dahulu.

Kandungan Gizi
Kolostrum adalah konsentrasi tinggi karbohidrat, protein, dan zat kebal tubuh. Zat kebal yang ada antara lain adalah: IgA dan sel darah putih. Kolostrum amat rendah lemak, karena bayi baru lahir memang tidak mudah mencerna lemak[4].

1 sendok teh kolostrum memiliki nilai gizi sesuai dengan kurang lebih 30 cc susu formula. Usus bayi dapat menyerap 1 sendok teh kolostrum tanpa ada yang terbuang, sedangkan untuk 30 cc susu formula yang diisapnya, hanya satu sendok teh sajalah yang dapat diserap ususnya[1].

Pada hari pertama mungkin hanya diperoleh 30 cc. Namun, dalam setiap tetesnya terdapat berjuta-juta satuan zat antibodi. SIgA adalah antibodi yang hanya terdapat dalam ASI. Kandungan SIgA dalam kolostrum pada hari pertama adalah 800 gr/100 cc. Selanjutnya mulai berkurang menjadi 600 gr/100 cc pada hari kedua, 400 gr/100 cc pada hari ketiga, dan 200 gr/100 cc pada hari keempat[1].

 Referensi
↑ 1,0 1,1 1,2 Blog ASI. Sepuluh Keistimewaan Pemberian ASI. 2005
↑ BMSG. Practical Hints on Breastfeeding, Second edition revised. Breastfeeding Mothers’ Support Group (Singapore) , 2001
↑ Blog ASI. ASI Terbaik Untuk Bayi dan Ibu. 2005
↑ 4,0 4,1 Wikipedia, Colostrum, 23 Mei 2006
Diperoleh dari “http://asuh.wikia.com/wiki/Kolostrum

Comments (1) »

Sukses Menyusui dengan Inisiasi Dini

Pekan ASI se-Dunia akan kembali digelar pekan ini. Temanya adalah ‘Menyusu Satu Jam Pertama Kehidupan, Menyelamatkan Lebih dari Satu Juta Bayi’. Saat ini, angka kematian bayi di seluruh dunia setiap tahun mencapai empat juta. Bila inisiasi dini diterapkan, angka kematian bisa dikurangi 22 persen atau sekitar satu juta jiwa.

Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia, dr Utami Roesli SpA MBA IBCLC, menuturkan pada tahun 1997 lalu, dokter dari Swedia meneliti 72 ibu dan bayi. Bayi yang tali pusarnya dipotong, dilap, dan langsung diletakkan di perut ibunya dengan kulit bersentuhan memperlihatkan perkembangan menarik. ”Ternyata, pada usia 20 menit, bayi merangkak di atas perut ibunya dalam keadaan mata tertutup, persis anak kucing. Pada usia 50 menit, dia bisa menemukan payudara ibunya sendiri,” tutur Utami. Adapun bayi yang tali pusarnya dipotong, dipisahkan dari ibunya untuk ditimbang, dibersihkan, dicap, dan seterusnya, 50 persen tidak bisa menemukan payudara ibunya.

Penelitian berikutnya menyimpulkan, bayi yang diberi kesempatan menyusu dini dengan skin to skin contact, masa menyusunya dua kali lebih lama dibanding yang tidak diberi perlakuan itu. ”Jadi, kegagalan menyusui bisa karena ini,” kata Utami. Tahun 2003-2004, sekelompok peneliti dari Inggris meneliti 10.947 bayi yang diberi inisiasi yang benar di Ghana. Hasilnya, bayi-bayi itu bukan hanya lebih mudah menyusui, tapi juga menurunkan 22 persen angka kematian bayi usia di bawah 28 hari.

Kurang tepat
Inisiasi dini sebenarnya telah dilaksanakan di Indonesia. Namun, ternyata belum benar. Sebab bayi baru lahir bisanya sudah dibungkus sebelum diletakan di dada ibunya. Akibatnya tak terjadi skin to skin contact. Kesalahan kedua, kata Utami, bayi bukan menyusu, melainkan disusui. ”Bayi memang diletakkan di dada ibunya, tapi 5-10 menit kemudian disusui oleh ibunya. Beda sekali dong antara menyusu dengan disusui.”

Seorang dokter di Indonesia yang telah menerapkan inisiasi dini secara benar, kata Utami, hampir tak percaya melihat bayi yang selama 15 menit tak bergerak, kemudian mencari payudara ibunya, dan minum sendiri. ”Dokter itu sampai bilang subhanallah,” kata Utami. Ada satu keuntungan lain dari penerapan inisiasi dini ini. Karena pada jam-jam pertama saat melahirkan, ayah, ibu, dan bayi bisa bersatu. Sambil bayi mencari puting susu ibunya, ayahnya bisa mengazankan bayi itu di dada ibunya. ”Itu indah sekali. Itu sebuah unity. Sebuah kesatuan dari sebuah keluarga.”

Sebelumnya, pada jam-jam pertama melahirkan, keluarga tercerai-berai. ”Ibunya entah di mana, anaknya entah di mana. Dan seorang ayah lebih sering mengazankan anaknya di tempat tidur yang dingin,” katanya. Direktur Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan, dr Ina Hernawati MPH, mengatakan inisiasi dini penting agar bayi mendapat kekebalan. Sebab saat bayi bersentuhan langsung dengan ibunya, bayi tertular kuman. Dan karena ibu telah memiliki kekebalan, kekebalan itu kemudian disalurkan lewat ASI. ”Kalau baru lahir digendong orang lain, yaa kena kuman orang lain.”

Inisiasi dini juga bermanfaat agar ibu lebih mudah terstimulus menyusui. Bayi yang menyentuh dada ibu akan membuat ibu mendapatkan rangsangan sensorik yang kemudian memerintah otak untuk memproduksi hormon oksitosin dan prolaktin. ”Jadi, secara teoretis semua ibu sebenarnya bisa menyusui.

Mencegah kanker
Aktivitas menyusui juga sangat bermanfaat karena mencegah kematian ibu melahirkan, kanker rahim, kanker payudara, dan menjarangkan kelahiran secara alami.
Aktivitas menyusui membuat payudara berganti sel dengan baik. ”Ini mencegah mencegah kanker payudara,” kata dr Detty S Nurdiati MPH PhD SpOG dari SMF Obstetri dan Ginekologi RS Dr Sardjito/FK UGM.

Isapan bayi saat menyusui, kata Detty, juga membuat ibu mengeluarkan hormon oksitosin yang memacu kontraksi rahim. Kontraksi rahim kemudian menjepit pembuluh darah dan menghentikan pendarahan di rahim. ”Sehingga kematian ibu karena perdarahan akan berkurang,” katanya. Kontraksi rahim juga disebutnya mempercepat masa nifas.

Bahwa menyusui bisa mencegah kanker payudara, telah dibuktikan penelitian terhadap 147 ibu di 30 negara. ”Ibu-ibu yang menyusui sampai dua tahun akan 50 persen drop dari kanker payudara. Hasil itu saya rasa sudah cukup bermakna. Itu adalah bonus dari Allah buat ibu-ibu. Karena menyusui berarti mengurus titipan Allah dengan benar.”

Leave a comment »

Inisiasi Menyusui Dini, Manfaatnya Seumur Hidup

Ada artikel bagus yang saya baca dari majalah Healthy Life edisi July 2007 tentang inisiasi dini yang ternyata 1 jam pemberiannya dapat menyelamatkan hidup bayi seumur hidupnya. Dengan memberikan inisiasi dini juga menurunkan resiko kematian bayi sebanyak 21%. Tak terpikirkan bahwa aneka ragam penyakit yang sering menyerang seseorang di usia 30, 40 dan 50 dapat disebabkan karena pemberian ASI yang kurang optimal saat masih bayi.

Apa sih Inisiasi itu dan bagaimana prosesnya?
Menurut paparan Dr. Utami Roesli, SpA,MBA,IBCLC sebagai ketua umum sentra laktasi Indonesia, Inisiasi dilakukan ketika bayi lahir, tali pusat dipotong, lalu di lap kering dan langsung diberikan pada ibu. Harus ada sentuhan skin to skin contact, dimana bayi tidak boleh dipisahkan dulu dari ibu. Yang perlu di jaga adalah suhu ruangan, dan sebaiknya bayi memakai topi bayi karena disitu banyak keluar panas. Suhu yang tepat adalah 28-29 derajat C.

Sampai disitu biarkan bayi di dada ibu minimal 30 menit sampai bayi mencari sendiri putting susu ibunya dan langsung diminum. Masa ini bisa sampai 2 jam dan hal ini tidak menjadi masalah. Bila bayi kedinginan dada sang ibu akan meningkat hangat sampai 2 derajat, jika bayi kepanasan otomatis suhu dada ibu menurun sampai 1 derajat. Dengan inisiasi dini memberikan motivasi yang sangat besar untuk ibu menyusui bayi.

Inisiasi dini juga berlaku untuk bayi yang lahir dengan cara sesar, vakum, kelahiran tidak sakit atau episiotomi. Hanya peluang untuk menemukan sendiri putting ibu akan berkurang sampai 50%. Ini juga berlaku untuk bayi yang begitu lahir dipisahkan untuk ditimbang, disinar dan lain-lain.

Manfaat Inisiasi

Anak yang dapat menyusui dini dapat mudah sekali menyusu kemudian, sehingga kegagalan menyusui akan jauh sekali berkurang. Selain mendapatkan kolostrum yang bermanfaat untuk bayi, pemberian ASI ekslusif akan menurunkan kematian.

ASI adalah cairan kehidupan, yang selain mengandung makanan juga mengandung penyerap. Susu formula tak diberi enzim sehingga penyerapannya tergantung enzim di usus anak. Sehingga ASI tidak ‘merebut’ enzim anak.

Yang sering dikeluhkan ibu-ibu adalah suplai ASI yang kurang, padahal ASI diproduksi berdasarkan demand. Jika diambil banyak, akan diberikan banyak. Sedangkan bayi yang diberikan susu formula perlu waktu satu minggu untuk mengeluarkan zat yang tidak dibutuhkannya.

Inti dari semua itu adalah, ASI ekslusif merupakan makanan terbaik bagi bayi. Namun karena informasi ASI yang kurang, tanpa kita sadari sudah menggangu proses kehidupan manusia mamalia. Inisiasi menyusui dini memang hanya 1 jam, tapi mempengaruhi bayi seumur hidupnya.

Sumber : Healthy life Magazine Indonesia.
 

Comments (2) »

5 Kiat Menyusui di Tempat Umum

Awalnya, mungkin sulit. Namun, semakin sering berlatih, semakin piawai Anda melakukannya sampai orang lain tidak tahu bahwa Anda sedang menyusui.

Bila Anda sudah memantapkan diri untuk memberi ASI pada si kecil, terutama ASI eksklusif selama 6 bulan, sebaiknya Anda juga mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu harus menyusuinya di tempat umum. Kalau Anda ke tempat umum yang memiliki ruang menyusui ( nursery room ), tentu tidak terlalu merisaukan. Yang menjadi masalah adalah apabila Anda ke tempat umum yang tidak mempunyai ruang menyusui. Anda mungkin perlu mempersiapkan diri.

Menyusui di tempat umum memang tidak mudah untuk dilakukan. Baik Anda maupun si kecil sama-sama harus belajar. Perlu diketahui, ada bayi yang cepat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi tertentu, dan ada bayi yang membutuhkan latihan yang banyak.

Rajin berlatih

Berlatihlah sampai Anda dan si kecil merasa nyaman dan percaya diri dengan kemampuan Anda menyusui di tempat umum. Tempat yang paling baik untuk mulai melatih kemampuan tersebut adalah di rumah Anda.

Bila perlu, berlatihlah menyusui bayi sambil berjalan berkeliling. Hal ini dapat Anda lakukan dengan menggunakan alat menggendong bayi yang memungkinkan bayi menempel di dada Anda. Selain bayi merasa aman, tangan Anda pun bebas bergerak sehingga orang lain tidak tahu Anda sedang menyusui.

Menyusui dengan “rapi”
Yang dimaksud di sini adalah, sedapat mungkin Anda tidak menarik perhatian orang saat menyusui bayi. Berlatihlah di depan cermin agar Anda dapat melihat apa yang orang lain lihat saat Anda menyusui. Bila Anda mengenakan baju dengan bukaan kancing depan, misalnya, bukalah beberapa kancing bagian atas sehingga Anda tetap “tertutup”.

Anda juga dapat menggunakan selimut. Namun perlu diingat, kontak mata dengan bayi saat berlangsungnya kegiatan menyusui adalah penting. Jadi, cobalah untuk tidak “menutup” bayi Anda seluruhnya.

Kenakan busana yang tepat

Sejak Anda memutuskan menyusui bayi, sejak itu pula Anda sebaiknya melakukan penyesuaian dengan jenis busana yang Anda kenakan. Jalan keluar yang mudah adalah mengenakan busana yang terdiri dari dua potong, yaitu atasan dan bawahan. Lebih baik lagi bila baju atasan yang Anda kenakan adalah baju menyusui. Berlatihlah menyusui dengan aneka model baju, sehingga Anda akan menemukan model baju yang Anda rasa paling nyaman dan tepat untuk menyusui di tempat umum.

Segera menyusui bayi saat ia lapar

Saat berada di tempat umum, waspadalah dengan tanda-tanda yang ditunjukkan oleh bayi saat ia merasa lapar. Anda sebaiknya segera menyusuinya bila ia tampak gelisah seakan-akan ada yang ia cari, rewel, atau mengisap jari tangannya.

Jangan ditunda menyusuinya sampai ia menangis dengan suara yang semakin lama semakin keras. Karena, hal ini tentu akan menarik perhatian negatif dari orang-orang di sekitar Anda. Bila segera disusui, bayi akan tenang dan biasanya tidak menarik banyak perhatian.

Temukan tempat yang baik

Ini merupakan langkah yang penting untuk meraih sukses menyusui di tempat umum. Bila Anda berada di restoran atau area lain yang ramai dan tidak punya ruang laktasi, cobalah untuk duduk. Bila mungkin, pilihlah tempat yang dapat memberi sedikit privasi, misalnya di sudut ruangan yang cukup luas atau di samping suatu dinding.

Bila Anda tidak berhasil mendapatkan tempat seperti itu, rundukkan badan Anda untuk menghindari pandangan orang lain saat membuka baju dan menempelkan mulut si kecil ke dada Anda. Setelah si kecil mulai menyusu, rapikan baju Anda, lalu tegakkan kembali badan Anda. Orang umumnya tidak akan memperhatikan bila Anda tidak bertindak berlebihan atau dibuat-buat. Dengan kata lain, bersikaplah wajar.

Toilet atau kamar kecil diakui banyak ibu sebagai tempat yang tidak nyaman untuk menyusui. Seperti juga kita yang enggan makan di toilet, bayi pun mungkin menginginkan hal yang sama.

Pada dasarnya, menyusui bayi di tempat umum tidak perlu membuat Anda gugup atau tidak nyaman. Menyusui bayi adalah hal yang benar dan alami. Bila seseorang memperhatikan Anda, balaslah pandangannya sambil tersenyum. Hal ini akan membuat mereka mengalihkan pandangan dari Anda. Yang penting, tetaplah teguh dengan prinsip Anda, bahwa Anda sedang melakukan sesuatu yang terbaik untuk bayi Anda.

Dewi Handajani (Ayahbunda-online.com)
Konsultasi ilmiah: dr. Rulina Suradi, Sp.A(K), IBCLC, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Leave a comment »

Relaktasi

Butuh Waktu dan Kesabaran

Anda dapat kembali menyusui si kecil setelah sempat atau terpaksa ‘istirahat’ dari kegiatan laktasi. Namun, ada beberapa hal yang sebaiknya Anda ingat, agar proses relaktasi tersebut berjalan lancar.

Ada kalanya, seorang ibu yang sedang dalam masa laktasi, menghentikan pemberian ASI kepada bayinya selama rentang waktu tertentu karena berbagai alasan. Misalnya saja, karena ibu yang bersangkutan menderita sakit yang membutuhkan tindakan operasi, atau harus tugas ke luar negeri. Namun, setelah beberapa waktu, baik itu hanya berselang seminggu atau bahkan beberapa bulan kemudian, timbul keinginan dalam diri si ibu untuk dapat menyusui kembali bayinya. Keinginan tersebut dapat diwujudkan dengan melakukan upaya atau proses yang dikenal dengan istilah relaktasi.

Butuh waktu

Perlu diketahui, selama masa ‘istirahat’ dari kegiatan menyusui, produksi ASI mungkin menjadi jauh berkurang, atau bahkan sempat terhenti. Nah, pada saat ibu hendak menyusui kembali, tubuhnya, terutama seluruh organ yang terlibat dalam proses produksi ASI, membutuhkan waktu untuk ‘mempersiapkan diri’, agar dapat meningkatkan atau menghasilkan ASI kembali seperti semula.

Waktu yang dibutuhkan oleh tubuh seorang ibu dalam rangka relaktasi tersebut berbeda-beda. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh lamanya menghentikan pemberian ASI, motivasi dari ibu yang bersangkutan, dan perangsangan terhadap proses produksi dan pengeluaran ASI melalui isapan bayi pada puting dan sebagian besar areola. Semakin pendek waktu menghentikasn pemberian ASI, semakin kuat motivasi ibu, dan semakin sering serta rutin perangsangan yang dilakukan oleh bayi, maka semakin cepat waktu relaktasi yang dibutuhkan oleh ibu.

Selain itu, ibu-ibu yang selama masa ‘istirahat’ laktasi masih sesekali menyusui bayinya, juga akan membutuhkan waktu relaktasi yang lebih cepat daripada ibu-ibu yang berhenti menyusui sama sekali. Jadi, bila golongan pertama mungkin membutuhkan waktu relaktasi beberapa hari saja, maka golongan kedua mungkin perlu waktu relaktasi antara 1 hingga 2 minggu. Mengingat hal itu, Anda yang sedang melakukan relaktasi sebaiknya tidak mudah putus asa, bila ternyata waktu yang Anda butuhkan jauh lebih lama dari yang Anda perkirakan sebelumnya.

Ada kemauan, pasti ada jalan

Jujur pada diri sendiri mengenai apa motivasi atau alasan sesungguhnya yang mendorong Anda untuk melakukan relaktasi, berperan besar dalam menentukan keberhasilan yang akan Anda raih. Jadi, sebelum memutuskan untuk melakukan relaktasi, sebaiknya Anda bertanya kepada diri sendiri. Misalnya, apakah karena Anda akan merasa bahagia dan puas bila si kecil mendapatkan zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya dari ASI Anda daripada dari susu formula? Atau, apakah ada alasan lain? Bila Anda sudah tahu apa motivasi Anda melakukan relaktasi, maka Anda akan lebih siap, dan langkah-langkah relaktasi yang Anda lakukan akan lebih terarah.

Relaktasi dapat Anda mulai dengan melatih si kecil untuk melakukan stimulasi (rangsangan) pada puting susu Anda. Caranya, dengan membiasakannya untuk mengisap puting susu Anda sekalipun ASI Anda belum keluar, atau sudah keluar tetapi masih sangat sedikit. Agar ia tidak marah, siapkanlah sebelumnya susu, atau bila mungkin ASI perah, untuk diberikan padanya. Anda dapat melakukannya dengan menggunakan, suplemental nursing system (ASI perah dimasukkan ke dalam suatu wadah lalu dialirkan melalui selang kecil yang ujungnya ditempelkan pada puting), cangkir, atau sendok bayi. Lakukanlah stimulasi ini secara teratur dan sesering mungkin, sesuai dengan datangnya rasa lapar bayi. Selain itu, upayakanlah agar tidak ada gangguan selama Anda menyusuinya. Dengan demikian, konsentrasi Anda dan bayi tidak buyar.

Selain itu, bersiap-siaplah untuk menghadapi stres yang mungkin akan Anda alami selama minggu-minggu pertama relaktasi. Karena, ASI yang Anda hasilkan biasanya masih sangat sedikit jumlahnya, dan tidak sebanding dengan kebutuhan si kecil. Akibatnya, si kecil mungkin akan terus-menerus menyusu dari waktu ke waktu. Hal itu tentu akan melelahkan Anda. Tidak ada salahnya bila Anda meminta dukungan mental dari orang-orang di sekitar Anda, selain suami. Misalnya, dokter, konsultan laktasi, atau teman Anda yang pernah melakukan upaya serupa dan telah meraih keberhasilan.

Selama relaktasi, jangan lupa untuk meningkatkanlah konsumsi protein dan cairan dalam menu makan Anda sehari-hari. Hal ini perlu untuk membantu mempercepat tubuh dalam memproduksi ASI. Selain itu, jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan istirahat Anda.

Umumnya, Anda akan lebih mudah melakukan relaktasi bila umur si kecil masih sekitar 4-6 minggu daripada bila si kecil sudah berumur 3 bulan, atau bahkan lebih dari 6 bulan. Hal ini antara lain karena frekuensi menyusu bayi-bayi yang usianya lebih tua umumnya lebih jarang, dan produksi ASI sudah tidak mencukupi seluruh kebutuhan gizinya lagi. Namun, apa pun kendala yang Anda hadapi, asal kemauan Anda kuat, pasti ada jalan keluarnya. Memang, relaktasi membutuhkan waktu, dan menuntut kesabaran Anda sebagai ibu.

Dewi Handajani (Ayahbunda-online.com)

Konsultasi ilmiah: dr. Rulina Suradi, Sp.A(K), IBCLC, Bagian Ilmu kesehatan Anak, FKUI, RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Leave a comment »

ASI versus Susu Formula

Asal Anda tahu, setiap air susu mamalia (makhluk/binatang yang menyusui anaknya), spesifik untuk masing-masing spesiesnya. Jadi ASI manusia ya paling cocok untuk bayi manusia. Jadi, sungguh sayang bila bayi Anda tidak mendapat ASI.

Untuk lebih meyakinkan, berikut beberapa keunggulan ASI dibanding susu formula.

* Sumber gizi sempurna

ASI: Mengandung zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. Antara lain, faktor pembentuk sel-sel otak, terutama DHA, dalam kadar tinggi. ASI juga mengandung whey (protein utama dari susu yang berbentuk cair) lebih banyak daripada casein (protein utama dari susu yang berbentuk gumpalan) dengan perbandingan 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap oleh tubuh bayi.

Susu formula:
Tidak seluruh zat gizi yang terkandung di dalamnya dapat diserap oleh tubuh bayi. Misalnya, protein susu sapi tidak mudah diserap karena mengandung lebih banyak casein. P erbandingan whey : casein susu sapi adalah 20:80.

* Mudah dicerna

ASI: Pembentukan enzim pencernaan bayi baru sempurna pada usia kurang lebih 5 bulan. ASI mudah dicerna bayi karena mengandung enzim-enzim yang dapat membantu proses pencernaan, antara lain lipase (untuk menguraikan lemak), amilase (untuk menguraikan karbohidrat), dan protease (untuk menguraikan protein).

Sisa metabolisme yang akan diekskresikan (dikeluarkan) melalui ginjal pun hanya sedikit, sehingga kerja ginjal si kecil menjadi lebih ringan. Asal tahu saja, metabolisme ini penting karena merupakan proses pembakaran zat-zat di dalam tubuh menjadi enerji, sel-sel baru, dan lain-lain.

Susu formula: Sulit dicerna karena tidak mengandung enzim perncernaan. Perlu diketahui, serangkaian proses produksi di pabrik mengakibatkan enzim-enzim pencernaan tidak berfungsi. Akibatnya, lebih banyak sisa pencernaan yang dihasilkan dari proses metabolisme, yang membuat ginjal bayi harus bekerja keras.

* Komposisi sesuai kebutuhan

ASI: Komposisi zat gizi ASI sejak hari pertama menyusui biasanya berubah dari hari ke hari. Perubahan komposisi ASI ini terjadi dalam rangka menyesuaikan diri dengan kebutuhan gizi bayi. Misalnya, kolostrum (cairan bening berwarna kekuningan yang biasanya keluar pada awal kelahiran sampai kira-kira seminggu sesudahnya) terbukti mempunyai kadar protein yang lebih tinggi, serta kadar lemak dan laktosa (gula susu) yang lebih rendah dibandingkan ASI mature (ASI yang keluar hari ke-10 setelah melahirkan). Kandungan kolostrum yang seperti ini akan membantu sistem pencernaan bayi baru lahir yang memang belum berfungsi optimal.

Selain itu, komposisi ASI pada saat mulai menyusui (fore milk) berbeda dengan komposisi pada akhir menyusui (hind milk). Kandungan protein fore milk (berwarna bening dan encer) tinggi, tetapi kandungan lemaknya rendah bila dibandingkan hind milk (berwarna putih dan kental). Walau tampak sehat, pertambahan berat badan bayi yang hanya mendapat fore milk kurang baik. Makanya, jangan terlalu cepat memindahkan bayi untuk menyusu pada payudara yang lain, bila ASI pada payudara yang sedang diisapnya belum habis.

ASI ibu yang melahirkan bayi prematur juga sesuai dengan kebutuhan bayinya. Antara lain, kandungan proteinnya lebih tinggi dan lebih mudah diserap.

Susu formula:
Komposisi zat gizinya selalu sama untuk setiap kali minum (sesuai aturan pakai).

* Mengandung zat pelindung

ASI: Mengandung banyak zat pelindung, antara lain imunoglobulin dan sel-sel darah putih hidup, yang perlu untuk membantu kekebalan tubuh bayi. Selain itu, ASI mengandung zat yang tidak terdapat dalam susu sapi, dan tidak dapat dibuat duplikasi atau tiruannya dalam susu formula, yaitu faktor bifidus. Zat ini penting untuk merangsang pertumbuhan bakteri Lactobacillus bifidus yang membantu melindungi usus bayi dari peradangan atau penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi beberapa jenis bakteri merugikan, seperti keluarga coli .

Susu formula:
Hanya sedikit mengandung imunoglobulin, dan sebagian besar merupakan jenis yang “salah” (tidak dibutuhkan oleh tubuh bayi). Selain itu, tidak mengandung sel-sel darah putih dan sel-sel lain dalam keadaan hidup

* Cita rasa bervariasi

ASI: Cita rasa ASI bervariasi sesuai dengan jenis senyawa atau zat yang terkandung di dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi ibu.

Susu formula: Bercita rasa sama dari waktu ke waktu.

Sumber : Ayahbunda-online.com 

Leave a comment »