Archive for imunisasi

Cegah Virus Polio dengan Vaksinasi

Hingga saat ini belum ditemukan cara pengobatan penyakit polio. Yang paling efektif hanyalah pencegahan dengan cara imunisasi.

Kasus penyakit polio di Sukabumi, Jawa Barat,sangat mengejutkan pemerintah dan masyarakat. Penyakit yang diakibatkan infeksi virus ini jelas mencemaskan para orang tua yang punya anak balita karena begitu mengerikan dampak buruk yang bisa ditimbulkan. Sayangnya lagi, hingga saat ini belum ditemukan cara pengobatannya. Yang paling efektif hanyalah pencegahan dengan cara imunisasi.

Virus polio (poliomyelitis) sangat menular dan tak bisa disembuhkan. Virus ini menyerang seluruh tubuh (termasuk otot dan sistem saraf) dan bisa menyebabkan kelemahan otot yang sifatnya permanen dan kelumpuhan total dalam hitungan jam saja. Bahkan sekitar 10-15 persen mereka yang terkena polio akhirnya meninggal karena yang diserang adalah otot pernapasannya.

Virus polio terdiri atas 3 tipe (strain), yaitu tipe 1 (brunhilde), tipe 2 (lanzig) dan tipe 3 (Leon). Tipe 1 seperti yang ditemukan di Sukabumi adalah yang paling ganas (paralitogenik) dan sering menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. Sedangkan tipe 2 paling jinak.

PROSES PENULARAN

Virus masuk melalui mulut dan hidung lalu berkembang biak di dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus. Selanjutnya, diserap dan disebarkan melalui sistem pembuluh darah dan pembuluh getah bening.

Penularan virus terjadi secara langsung melalui beberapa cara, yaitu:

* fekal-oral (dari tinja ke mulut)

Maksudnya, melalui minuman atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita lalu masuk ke mulut orang yang sehat.

* oral-oral (dari mulut ke mulut)

Yaitu melalui percikan ludah atau air liur penderita yang masuk ke mulut orang sehat lainnya.

Sebenarnya, kondisi suhu yang tinggi dapat cepat mematikan virus. Sebaliknya, pada keadaan beku atau suhu yang rendah justru virus dapat bertahan hidup bertahun-tahun. Ketahanan virus ini di dalam tanah dan air sangat bergantung pada kelembapan suhu dan adanya mikroba lain. Virus ini dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai berkilo-kilometer dari sumber penularan.

Meskipun cara penularan utama adalah akibat tercemarnya lingkungan oleh virus polio dari penderita yang terinfeksi, namun virus ini sebenarnya hidup di lingkungan yang terbatas. Nah, salah satu inang atau mahluk hidup perantaranya adalah manusia.

GEJALA KLINIS

Masa inkubasi virus polio biasanya berkisar 3-35 hari. Gejala umum serangannya adalah pengidap mendadak lumpuh pada salah satu anggota gerak setelah demam selama 2-5 hari.

Berikut fase-fase infeksi virus tersebut:

* stadium akut

Yaitu fase sejak adanya gejala klinis hingga 2 minggu. Ditandai dengan suhu tubuh yang meningkat. Kadang disertai sakit kepala dan muntah-muntah. Kelumpuhan terjadi akibat kerusakan sel-sel motor neuron di bagian tulang belakang (medula spinalis) lantaran invasi virus. Kelumpuhan ini bersifat asimetris sehingga cenderung menimbulkan gangguan bentuk tubuh (deformitas) yang menetap atau bahkan menjadi lebih berat. Kelumpuhan yang terjadi sebagian besar pada tungkai kaki (78,6%), sedangkan 41,4% pada lengan. Kelumpuhan ini berlangsung bertahap sampai sekitar 2 bulan sejak awal sakit.

* stadium subakut

Yaitu fase 2 minggu sampai 2 bulan. Ditandai dengan menghilangnya demam dalam waktu 24 jam. Kadang disertai kekakuan otot dan nyeri otot ringan. Terjadi kelumpuhan anggota gerak yang layuh dan biasanya salah satu sisi saja.

* stadium konvalescent

Yaitu fase pada 2 bulan sampai dengan 2 tahun. Ditandai dengan pulihnya kekuatan otot yang sebelumnya lemah. Sekitar 50-70 persen fungsi otot pulih dalam waktu 6-9 bulan setelah fase akut. Selanjutnya setelah 2 tahun diperkirakan tidak terjadi lagi pemulihan kekuatan otot.

* stadium kronik

Yaitu lebih dari 2 tahun. Kelumpuhan otot yang terjadi sudah bersifat permanen.

UPAYA PENCEGAHAN

Ada beberapa langkah upaya pencegahan penyebaran penyakit polio ini, di antaranya adalah:

* Eradikasi Polio

Dalam World Health Assembly tahun 1988 yang diikuti oleh sebagian besar negara di seluruh penjuru dunia dibuat kesepakatan untuk melakukan Eradikasi Polio (ERAPO) tahun 2000, artinya dunia bebas polio tahun 2000. Program ERAPO yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan cakupan imunisasi yang menyeluruh.

* PIN (Pekan Imunisasi Nasional)

Selanjutnya, pemerintah mengadakan PIN pada tahun 1995, 1996 dan 1997. Imunisasi polio yang harus diberikan sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu. Kemudian diulang pada saat usia 1,5 tahun; 5 tahun; dan usia 15 tahun.

Upaya imunisasi yang berulang ini tentu takkan menimbulkan dampak negatif. Bahkan merupakan satu-satunya program yang efisien dan efektif dalam pencegahan penyakit polio.

* Survailance Acute Flaccid Paralysis

Yaitu mencari penderita yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun. Mereka harus diperiksa tinjanya untuk memastikan apakah karena polio atau bukan. Berbagai kasus yang diduga infeksi polio harus benar-benar diperiksa di laboratorium karena bisa saja kelumpuhan yang terjadi bukan karena polio.

* Mopping Up

Artinya tindakan vaksinasi massal terhadap anak usia di bawah 5 tahun di daerah ditemukannya penderita polio tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya.

Tampaknya di era globalisasi dimana mobilitas penduduk antarnegara sangat tinggi dan cepat, muncul kesulitan dalam mengendalikan penyebaran virus ini. Selain pencegahan dengan vaksinasi polio tentu harus disertai dengan peningkatan sanitasi lingkungan dan sanitasi perorangan. Penggunaan jamban keluarga, air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan, serta memelihara kebersihan makanan merupakan upaya pencegahan dan mengurangi risiko penularan virus polio yang kembali mengkhawatirkan ini.

Menjadi salah satu keprihatinan dunia bahwa kecacatan akibat polio menetap tak bisa disembuhkan. Penyembuhan yang bisa dilakukan sedikit sekali alias tidak ada obat untuk menyembuhkan polio. Namun, sebenarnya orang tua tak perlu panik jika bayi dan anaknya telah memperoleh vaksinasi polio lengkap.

MENDETEKSI LUMPUH LAYUH

* Bayi

– Perhatikan posisi tidur. Bayi normal menunjukkan posisi tungkai menekuk pada lutut dan pinggul. Bayi yang lumpuh akan menunjukkan tungkai lemas dan lutut menyentuh tempat tidur.

– Lakukan rangsangan dengan menggelitik atau menekan dengan ujung pensil pada telapak kaki bayi. Bila kaki ditarik berarti tidak terjadi kelumpuhan.

– Pegang bayi pada ketiak dan ayunkan. Bayi normal akan menunjukkan gerakan kaki menekuk, pada bayi lumpuh tungkai tergantung lemas.

* Anak besar

– Mintalah anak berjalan dan perhatikan apakah pincang atau tidak.

– Mintalah anak berjalan pada ujung jari atau tumit. Anak yang mengalami kelumpuhan tidak bisa melakukannya.

– Mintalah anak meloncat pada satu kaki. Anak yang lumpuh tak bisa melakukannya.

– Mintalah anak berjongkok atau duduk di lantai kemudian bangun kembali. Anak yang mengalami kelumpuhan akan mencoba berdiri dengan berpegangan merambat pada tungkainya.

– Tungkai yang mengalami lumpuh pasti lebih kecil.

IMUNISASI MASSAL

Laboratorium rujukan global di Mumbai, India, telah mengonfirmasikan bahwa isolat virus yang dikirim dari Sukabumi, Jawa Barat, adalah polio liar (wild poliovirus) tipe 1. Hingga sekarang, pemeriksaan terhadap kasus lumpuh layuh di tiga kecamatan di Sukabumi terus dilakukan. Dari sekitar 17 kasus yang diduga terkena polio, hingga saat ini baru 4 anak yang dinyatakan positif terinfeksi. Dari semua kasus tersebut ternyata tak satu pun yang pernah mendapatkan imunisasi polio.

Para penderita yang diduga terkena polio dan mengalami kelumpuhan masih dibuktikan apakah itu karena polio liar atau bukan. Pemeriksaan secara klinis dilakukan untuk mengetahui sifat kelumpuhannya dengan cara diambil spesimen tinja sebanyak dua kali. Semua kasus yang diduga polio memang harus dibuktikan dengan hasil laboratorium. Pasalnya, tak semua kasus kelumpuhan diakibatkan polio tapi juga bisa terjadi karena infeksi virus penyakit lain, misalnya Guillaire Barre Syndrome, Polyneuropathy, Tranverse Myelitis dan sebagainya. Demikian pula informasi yang menyebutkan bahwa penyakit ini sudah menyebar ke daerah lain, seperti Jawa Tengah. Hal tersebut perlu dibuktikan apakah betul karena polio atau bukan.

Dalam waktu dekat, pemerintah akan melakukan vaksinasi polio secara massal bagi sekitar 5,2 juta balita di tiga provinsi, yakni Jabar, DKI, dan Banten. Vaksinasi gratis itu akan dilakukan dalam dua tahap, pada 21 Mei dan 28 Juni 2005. Orang tua diharapkan membawa anaknya dalam waktu yang sama untuk mendatangi pos-pos yang sudah ditentukan untuk melakukan imunisasi. Pemerintah menyediakan dana sekitar Rp 8,5 miliar untuk pembelian vaksin polio. Sedangkan dana operasional sebesar Rp 9 miliar merupakan bantuan dari pemerintah Australia yang disalurkan melalui WHO.

Pemerintah sendiri menjamin Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit polio ini tidak akan meluas ke daerah lain, karena hampir seluruh balita di Indonesia atau sekitar 90 persen telah diimunisasi polio pada tahun 2002 lalu melalui program imunisasi rutin. Virus polio liar tidak pernah lagi ditemukan di Indonesia sejak tahun 1995.

Hingga saat ini, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan. Namun, pada awal 2005 ini, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman ternyata terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negara endemis polio. Demikian pula dengan Indonesia yang sebelumnya dinyatakan bebas polio. Kasus polio di Sukabumi memang cukup mengagetkan pemerintah dan masyarakat.

Hilman Hilmansyah. Ilustrator: Pugoeh

Konsultan Ahli:

Dr. Muhammad Nadhirin,

Kasubdit Surveilans Epidemiologi,

Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Depkes.

Dr. Widodo Judarwanto Sp.A,

dari Rumah Sakit Bunda Jakarta

Advertisements

Comments (1) »

Tentang Imunisasi Hib

Apa itu Hib?
Hib adalah singkatan untuk Haemophilus influenzae type b, sejenis bakteria yang menyebabkan penyakit yang dapat berakibat fatal, seperti: Radang selaput otak (Meningitis), jangkitan pada selaput otak dan saraf tunjang Radang paru- paru (Pneumonia),  jangkitan pada paru- paru Radang epiglotis (kerongkong), jangkitan pada epiglottis Keracunan darah (septicaemia), jangkitan darah Radang sendi,  dan jangkitan pada sendi Penyakit Hib.

Yang perlu diingat, jangkitan HIV dan Hepatitits B TIDAK sama. Vaksin pencegah Hepatitis B adalah vaksin Hepatitis B sedangkan vaksin penyakit Hib adalah vaksin Hib.

Mengapa penyakit Hib berbahaya?
Hib mudah berjangkit terutama dikalangan anak-anak dan biasanya menyebabkan penyakit yang fatal atau membawa maut. Jangkitan Hib pada selaput otak bisa mengakibatkan cacat otak permanen.

Siapa yang bisa terjangkit penyakit Hib?
Penyakit Hib sering terjadi dikalangan anak- anak berumur di bawah 5 tahun. Risiko jangkitan tertinggi ada pada kalangan anak- anak berumur dibawah 1 tahun. Bayi yang mendapatkan ASI, akan mendapat perlindungan alami penyakit Hib, walaupun begitu Imunisasi masih diperlukan untuk mendapat perlindungan maksimal.

Bagaimana penyakit Hib merebak?
Penyakit Hib dapat menyebar apabila penderita batuk atau bersin. Atau melalui pertukaran mainan yang dimasukkan kedalam mulut.

Bagaimana penyakit Hib bisa dicegah?
Penyakit Hib dapat dicegah melalui imunisasi Hib. Imunisasi Hib tidak dapat melindungi anak- anak dari penyakit yang disebabkan oleh bakteria/ virus yang lain. Anak- anak yang mendapat jangkitan virus atau bakteria yang lain dapat menderita radang paru- paru, radang selaput otak atau selesma.

Kapan imunisasi Hib diberi?
Semua bayi berumur 2, 4 dan 6 bulan perlu diberi imunisasi Hib Imunisasi Hib diberikan sebanyak 3 kali pada umur 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan (sesuai jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2006).

Apakah efek samping imunisasi Hib?
Imunisasi Hib adalah AMAN efek samping. Yang berlaku biasanya ringan dan tidak berbahaya dibandingkan jika mendapat penyakit Hib atau komplikasinya. Walau bagaimanapun, sakit, bengkak dan kemerahan bisa muncul ditempat suntikan. Ini biasanya terjadi dari 1 hingga 3 hari selepas imunisasi. Kadangkala, anak-anak juga dapat menderita demam selepas imunisasi.

Comments (1) »