Archive for 6-9 month

Roseola Infantum

Beberapa waktu yang lalu, Annisa sempet kena Roseola Infantum. Awalnya demam tinggi, kurang lebih 3 hari. Sempet khawatir, karena setau gue demam itu tanda adanya infeksi, tapi waktu itu gak ada gejala-gejala timbul penyakit lain. Pas hari ketiga, demam turun. Tapi sekujur tubuh keluar ruam merah yang gak biasa. Langsung cari2 informasi di buku pegangan yang ada di rumah, akhirnya ketemu penyakitnya : Roseola Infantum.

Intinya penyakit ini gak berbahaya, dan gak ada obatnya. Penanganan cukup sewaktu anak sedang demam, biar lebih nyaman beristirahat.

Di bawah ini ada artikel tentang Roseola Infantum yang dicopas dan diedit dari sini.

—————————————–

DEFINISI

Roseola Infantum adalah suatu penyakit virus menular pada bayi atau anak-anak yang sangat muda, yang menyebabkan ruam dan demam tinggi. Roseola biasanya menyerang anak yang berumur 6 bulan – 3 tahun.

PENYEBAB

Penyebabnya adalah virus herpes tipe 6 dan 7. Virus disebarkan melalui percikan ludah penderita. Masa inkubasi (masa dari mulai terinfeksi sampai timbulnya gejala) adalah sekitar 5-15 hari. Biasanya penyakit ini berlangsung selama 1 minggu.

GEJALA

Demam timbul secara tiba-tiba, mencapai 39,4-40,6° Celsius dan berlangsung selama 3-5 hari. Meskipun demam tinggi, tetapi anak tetap sadar dan aktif. Pada saat suhu tubuh mulai tinggi, 5-10% penderita mengalami kejang demam (kejang akibat demam tinggi).

Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di belakang kepala, leher sebelah samping dan di belakang telinga. Limpa juga agak membesar. Pada hari keempat, demam biasanya mulai turun.

Sekitar 30% anak memiliki ruam (kemerahan di kulit), yang mendatar maupun menonjol, terutama di dada dan perut dan kadang menyebar ke wajah, lengan dan tungkai. Ruam ini tidak menimbulkan rasa gatal dan berlangsung selama beberapa jam sampai 2 hari.

 roseola_3

PENANGANAN

Untuk menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen. Kepada anak-anak tidak boleh diberikan aspirin karena bisa menyebabkan sindroma Reye. Sebaiknya anak dikompres dengan menggunakan handuk atau lap yang telah dibasahi dengan air hangat (suam-suam kuku). Jangan menggunakan es batu, air dingin, alkohol maupun kipas angin.

Usahakan agar anak minum banyak air putih atau potongan-potongan es batu, larutan elektrolit atau kaldu. Selama demam, sebaiknya anak menjalani tirah baring.

Advertisements

Leave a comment »

Ke Dokter Yuk, Nak..

Hadirnya bayi membuat anda akan bersahabat dengan dokter. Walaupun juga tak perlu sedikit-sedikit ‘parno’ ke ruang praktek dokter, anda jangan melewatkan kunjungan dokter yang wajib bagi bayi sehat dan cukup bulan. Salah satunya, kontrol pertamanya.

Kapan Kontrol Pertama?

Ketika anda meninggalkan rumah sakit sehabis bersalin, biasanya dokter akan menjadwalkan kontrol pertama bayi. Jika tidak, bawa dia 7-14 hari setelah lahir, atau berdekatan dengan jadwal periksa anda ke dokter kandungan.

Mengapa Wajib?

Karena tujuannya adalah untuk memantau kesehatan dan tumbuh kembang bayi sedini mungkin Sehingga jika ada gangguan, dokter dapat mengetahui dan segera mengambil tindakan. Setelah kontrol pertama, periksakan bayi ke dokter secara berkala, setidaknya sampai dia berusia 3 tahun.

Apa yang perlu disiapkan?

  • Catat pertanyaan yang ingin disampaikan kepada dokter, termasuk keluhan atau kelainan yang anda temukan pada bayi sejak dia pulang ke rumah.
  • Buat janji dengan dokter atau lakukan pendaftaran ke klinik atau rukah sakit sebelum hari H.
    Minta kesediaan pasangan atau orang lain menemani anda ke dokter.
  • Bawa buku kesehatan dan catatan medis lain yang diberikan saat bayi meninggalkan rumah sakit.
  • Bila ada, siapkan pula kartu asuransi kesehatan dan tentu tidak lupa keperluan bayi seperti baju ganti, selimut, tissue, popok, dan mainan.
  • Perkirakan waktu keberangkatan agar tidak terlalu lama menunggu di tempat praktek dokter.

Apa yang dilakukan di tempat dokter?

Laporkan kedatangan pada perawat, dan tanyakan giliran periksa. Bila di klinik atau rumah sakit tak ada ruang periksa terpisah bagi anak sehat dan sakit, cari tempat terpisah untuk menunggu agar memperkecil risiko bayi terinfeksi kuman penyakit.

Apa saja yang dilakukan dokter?

Dokter akan meminta anda menceritakan kondisi kesehatan bayi sepulang dari rumah sakit hingga saat itu dan pencapaian bayi. Lalu memeriksa fisik bayi, termasuk mengukur berat badan, panjang/tinggi badan dan lingkar kepala. Angka-angka yang diperoleh akan diplot di kurva pertumbuhan di buku kesehatan atau Kartu Menuju Sehat (KMS). Angka pertumbuhan tersebut dalam beberapa bulan harus mengikuti kurva naik ke atas. Pergerakan itulah yang penting. Dokter juga akan mengukur suhu tubuh, memeriksa mata, telinga, hidung, mulut, paru, jantung, kulit, perut, tali pusat atau pusarnya, alat kelamin, pergelangan tangan dan kaki, gerak refleks dll. Beberapa tes tambahan kemungkinan juga dilakukan, seperti memeriksa respon bayi terhadap suara atau sinar.

Adakah pertanyaan lain?

Soal kecukupan ASI. Pada hari ke-3 atau ke-4 setelah lahir, normalnya anda akan menyusui bayi 8 hingga 15 kali sehari atau setiap 2-3 jam sekali. Dokter juga akan memerikasa jadwal imunisasi, pemberiannya dan akan memberi jadwal imunisasi selanjutnya.

Bagaimana saya bersikap selama pemeriksaan?

Jangan segan bertanya pada dokter! Terutama soal tujuan dan hasil yang diperoleh dari setiap pemeriksaan. Anda adalah mitra dokter. Namun sebaiknya, cek dulu pada dokter kapan waktu tepat untuk bertanya, saat pemeriksaan berlangsung atau diakhir pemeriksaan. Sebuah Daftar pertanyaan akan sangat membantu anda.

Di antara pemeriksaan satu dengan lainnya, peluk dan ajak bayi bicara atau mendendangkan lagu untuknya. Ini akan membuatnya aman dan nyaman.

Apa yang perlu diperhatikan sebelum meninggalkan ruang praktik dokter?

Tanyakan kesimpulan hasil pemeriksaan -apakah ada tes atau pemeriksaan lebih lanjut? Jika tidak, cek jadwal kontrol berikutnya. Biasanya dilakukan saat bayi berusia 2 bulan atau jika jatuh sakit. Sebaiknya setelah kontrol ke dokter, anda langsung pulang agar bayi bisa beristirahat karena pemeriksaan cukup melelahkan bagi bayi.

Apa yang perlu dilakukan di rumah

Tetap memantau kesehatan bayi dengan mempertimbangkan dan menerapkan saran-saran dokter.
Mengoptimalkan tumbuh kembang bayi, misalnya dengan melatih otot-ototnya sambil bermain.
Upayakan bayi selalu dalam pengawasan anda.

Ciptakan lingkungan yang baik -kamar yang hangat dan bersirkulasi udara lancar, tempat tidur rapi dan bersih, atau alas main yang bebas bahan beracun dan berbahaya.

Catat setiap hal yang perlu ditanyakan ke dokter pada kontrol berikutnya. Semakin banyak data yang anda miliki, semakin percaya diri anda merawat si kecil.

 

quoted from :Ayah Bunda

Leave a comment »

Ada apa di balik perilaku suka-suka bayi?

Rasa senang mengamati proses tumbuh kembang bayi tak jarang disertai rasa tegang. Biasanya terjadi ketika bayi melakukan eksplorasi yang dianggap menjengkelkan. Maklumlah, si kecil mulai ingin bereksperimen; menuang-nuang air, mengacak-acak tumpukan baju, atau menyobek buku. Tak sedikit orangtua yang ingin segera menghentikannya. Padahal, selain anak belum paham mana benar mana salah, banyak sekali manfaat dari perilaku “periset” cilik ini. Mau tahu?

1. MENYEMBUR-NYEMBURKAN MAKANAN

Dilakukan oleh bayi yang sudah kenal makanan padat. Peralihan dari makanan cair ke makanan padat membutuhkan proses adaptasi. Ada beberapa hal yang dirasakan bayi dari makanan barunya ini, antara lain tekstur, rasa, dan rupa. Manfaatnya, ia belajar tentang tekstur makanan. Kondisi ini membuat bayi tergerak rasa ingin tahunya untuk bereksperimen dengan makanan itu. Jadilah, makanan itu disembur-sembur. Karena dirasa mengasyikkan, bayi pun akan mengulang-ulang tindakan itu.

Kebiasaan ini memang kurang baik, karena mungkin ada kebutuhan zat nutrisi bayi yang tidak terpenuhi seluruhnya. Namun, Anda tak perlu kesal apalagi menganggap si kecil berperilaku buruk. Atasi dengan memberi penjelasan; makanan haruslah dikunyah dan ditelan, jangan disembur-sembur. Lakukan berulang-ulang dan sabar. Tiap bayi butuh proses yang berbeda-beda untuk mengenal makanan.

Selain itu, orangtua juga harus melihat motif lain di balik perilaku. Jangan-jangan si kecil sudah kenyang. Kalau demikian, jangan paksa ia menghabiskan porsi yang diberikan. Aturlah porsi yang pas baginya. Sebab lain, ia menolak makanan karena tidak suka rasanya. Jadwal pemberian makanan juga harus diatur dengan cermat agar bayi bisa berselera saat makan. Termasuk jadwal minum susu dan makan makanan selingan.

2. MELEMPAR-LEMPAR BARANG

Entah berapa banyak barang di rumah yang rusak akibat dilempar si kecil. Hari ini botol susu, besok kacamata ibu. Perilaku ini biasanya dilakukan bayi pada usia 6 bulan ke atas. Terjadi karena rasa penasaran bayi akan hubungan sebab akibat. Bila benda itu dilempar, akankah benda itu mengeluarkan bunyi, memantul, atau rusak?

Sikapi perilaku ini dengan melihat situasi dan kondisi. Jika benda yang dilemparnya berbahaya atau berharga, orangtua harus cepat menghentikannya dengan tegas tetapi tak perlu dengan nada marah. Larangan juga berlaku jika si bayi selalu melempar benda ke arah orang lain.

Lain halnya jika yang dilempar mainannya sendiri ke arah yang tidak membahayakan. Biarkan saja seraya memberi penjelasan apa akibatnya setelah barang itu dilempar. Selama tidak membahayakan, biarkan bayi melihat dan memegangnya. Jelaskan pula konsekuensinya; jika mainan itu rusak, dia tidak bisa bermain dengannya lagi. Memang, saat itu bayi tidak langsung menangkap pesan yang disampaikan, tetapi pesan yang diulang-ulang akan direkam secara terus-menerus dan menjadi acuan nilai saat berperilaku kelak.

Orangtua seharusnya dapat memberikan mainan alternatif yang aman tapi menarik, misalnya bola kecil yang dapat digenggam bayi. Kalau perlu mainan ini mampu mengeluarkan bunyi saat mengenai lantai. Permainan lempar-lempar benda sarat manfaat karena bisa melatih kemampuan motorik anak, memberi pemahaman proses sebab akibat, dan gaya gravitasi bumi.

3. MENGACAK-ACAK BAJU

Perilaku bayi 6 bulan ke atas ini mungkin sama mengesalkannya. Kala duduk di samping tumpukan baju yang telah dirapikan, dengan enaknya ia menariknya satu per satu. Setelah itu, dia akan meninggalkan baju yang berserakan. Tidak ada rasa bersalah. Ini juga bentuk eksplorasi bayi terhadap baju. Aneka bentuk, motif, variasi gambar dan warna membuat bayi tertarik menyentuhnya.

Tentu tak perlu memarahinya. Ajaklah si kecil merapikan kembali tumpukan baju tersebut. Beri penjelasan, benda yang diacaknya adalah baju. Jika diacak-acak jadi kusut dan sulit dimasukkan ke dalam lemari. Lakukan penjelasan berkali-kali sambil si bayi dikenalkan pada warna-warna baju yang ada. Meskipun belum mengerti dan cenderung akan mengulangi lagi perbuatannya, kelak bayi akan paham tentang pentingnya kerapian.

4. MENUANG-NUANG AIR

Kebiasaan ini dilakukan hampir semua bayi. Sejak berumur 9 bulan ia senang menuangkan cairan ke lantai atau ke media lainnya. Entah itu air minumnya, susu dari botol, atau air dari ember mandinya. Dari aktivitas menuang, bayi belajar proses sebab akibat. Dia akan segera tahu, air bisa dipindahkan ke media lain dan menjadikannya basah. Apakah itu mainannya, seprai, sofa, lantai, atau benda lain di sekitarnya. Dia pun bisa meminum air atau susu dari benda-benda seperti gelas.

Saat si kecil berbuat demikian, cobalah terlibat di dalamnya seraya memberi penjelasan, misalnya, air kotor yang diminum bisa membuatnya sakit. Atau, air itu bisa membuat lantai basah, licin, dan membuatnya terpeleset. Dengan begitu, bayi mulai belajar konsekuensi dari sebuah perilaku. Alihkan kegiatannya ke media yang tepat untuk melatih keterampilan motorik dan koordinasi gerak tangan anak.

5. MEMBONGKAR MAINAN

Tidak heran, jika mainan baru si bayi yang hanya berumur satu-dua hari saja. Membongkar mainan dapat dilakukan bayi laki-laki maupun perempuan sejak ia berumur 7 bulan. Ia ingin tahu lebih dekat mainan itu, apa saja yang ada di dalamnya, bagaimana kalau salah satu bagian ditarik atau dicopot. Karenanya, hindari mainan yang terdiri atas partikel-partikel kecil dan gampang tertelan karena bayi juga bereksplorasi dengan memasukkan benda kecil ke dalam mulutnya.

Meski begitu, kemampuan membongkar benda jelas sangat bermanfaat. Jadi, berikan mainan mainan aman yang dapat dibongkar pasang seperti “donat susun” atau pasel berkeping tunggal. Sertakan penjelasan ketika bermain bersama bayi tentang bagaimana menyusun kembali mainan yang sudah dibongkar, warnanya, bentuknya, gambarnya, namanya, dan sebagainya. Dengan bimbingan seperti ini, bayi belajar memecahkan masalah secara tuntas.

6. MEMBUANG-BUANG MAKANAN DAN KOSMETIK

Sejak berumur 6 bulan, bayi juga senang mengacak-acak susu bubuk, menaburkan bedak ke atas mainannya, atau menggunakan minyak telon untuk sang boneka. Hal yang bisa dilakukan adalah melakukan tindakan pencegahan. Letakkan benda-benda itu di luar jangkauan bayi sehabis digunakan. Jika telanjur dipakai si kecil, orangtua bisa memberikan penjelasan fungsi benda-benda tersebut, susu untuk dicampur air dan diminum, bedak hanya dipakai untuk tubuh bukan untuk mainan, dan minyak telon hanya untuk menghangati tubuhnya bukan tubuh boneka. Saat itu mungkin si bayi cuek saja, tapi percayalah lambat laun ia akan memahaminya.

7. MENYOBEK BUKU, MAJALAH, KORAN

Banyak orangtua kesulitan membacakan dongeng pada bayi karena ia cenderung merampas buku dan mungkin menyobeknya. Koran dan majalah kepunyaan orangtua pun biasanya ikut rusak. Penyebabnya mungkin rasa ingin tahu atau malah rasa bosan. Memang, tidak semua bayi betah dibacakan cerita, terutama jika si pendongeng terdengar membosankan. Jadinya ia berulah sambil juga ingin tahu bagaimana jadinya jika halaman buku itu dirobek, digigit, dan diremas.

Mengatasinya bukan dengan menjauhkan bayi dari buku. Biarkan ia akrab dengan benda yang satu ini dan teruskan kegiatan mendongeng dan membahas isi secara menarik untuk menumbuhkan minat bacanya. Untuk itu, sediakan buku dari bahan kain atau kertas papan yang tidak mudah disobek. Pilih buku bertema pengenalan bentuk, warna, besar-kecil, jauh-dekat, aktivitas sehari-hari di rumah dengan tokoh hewan atau anak sebayanya, atau dongeng-dongeng sederhana. Selipkan pesan, jika buku itu dirusak ia tidak bisa lagi melihat gambar-gambarnya. Untuk koran dan majalah, orangtua bisa meletakkannya di luar jangkauan si kecil seusai dibaca.

8. MENCORAT-CORET

Sejak berusia 9 bulan, bayi sudah bisa memegang benda ramping, termasuk krayon, kuas, spidol, dan bolpoin meski belum sempurna. Saat tahu benda yang dipegangnya meninggalkan jejak begitu digoreskan, ia akan terus berkreasi membuat goresan-goresan lain. Dia menganggap semua benda yang ada bisa dicorat-coretnya. Tidak hanya buku gambar, tapi juga tembok, sprei, baju, bahkan bagian tubuhnya sendiri seperti kaki dan tangan.

Orangtua tak perlu melarang kebiasaan ini karena sangat membantu mengasah keterampilan motorik halus bayi. Yang bisa dilakukan adalah membatasi lahan corat-coretnya dan menghindarkan anak dari alat tulis yang tajam bahkan beracun. Sediakanlah media coret yang cukup luas di dinding dan lantai agar ia puas. Pembatasan ini tidak membuat kreativitas anak terganggu. Kegiatan corat-coret, juga mengasah kreativitasnya.

sumber: nakita

Leave a comment »

Jeli Pilih Baju Bayi

Bayi tak butuh busana orang dewasa dalam bentuk mini. Namun, bayi juga perlu tampil keren dan gaya, bukan?

Bayi masih memiliki keterbatasan gerak, sehingga yang dibutuhkan adalah baju-baju yang simpel dan terbuat dari bahan-bahan yang menyerap keringat. Nah, agar tak salah memilihkan baju untuk si kecil, ikuti panduannya:

  1. Pilihlah ukuran yang pas dengan ukuran tubuh bayi. Bayi yang gemuk akan sulit bergerak jika menggunakan baju yang sempit.
  2. Sesuaikan baju dengan iklim dan cuaca saat itu.
  3. Untuk Indonesia yang beriklim tropis, pilihlah baju dari bahan-bahan yang menyerap keringat dan halus seperti katun atau kaos, sehingga tidak menimbulkan iritasi pada kulit.
  4. Hindari pemakaian bahan sintetis semacam polyester karena tidak menyerap keringat. Keringat yang berlebihan dapat menyebabkan ruam kulit dan tidak nyaman.
  5. Pilih model baju yang simpel dan sesuai dengan tubuhnya yang masih kecil, sehingga baju tersebut tidak menghalangi gerakan-gerakan si bayi. Utamakan fungsi daripada model. Misal, untuk bayi yang mulai merangkak dapat dikenakan celana panjang guna melindungi lututnya.
  6. Perhatikan tinggi tubuh bayi yang sudah bisa merangkak. Hindari memilihkan baju atau celana yang kepanjangan karena dapat membahayakan saat merangkak.
  7. Perhatikan posisi label baju. Posisi label yang baik adalah yang letaknya jauh dari kulit bayi (misalnya, di samping). Sehingga label tersebut tidak akan bergesek dengan kulit saat bayi bergerak. Bayi pun akan terhindar dari iritasi kulit.
  8. Perhatikan aksesori atau hiasan yang terdapat pada baju.
  9. Perhatikan bentuk kerah baju. Kerah yang terlalu sempit dan terlalu tebal akan membuat bayi merasa tidak nyaman.
  10. Hindari penggunaan karet elastis karena memiliki daya rekat yang lebih kuat. Sebagai penggantinya dapat digunakan benang karet yang daya rekatnya lebih lembut.
  11. Hindari pengunaan mote-mote sebagai hiasan karena bayi kerap menggigiti bagian bajunya.
  12. Hindari kancing yang terbuat dari metal, biasanya kerap terdapat pada celana atau overall berbahan jins. Sebagai gantinya dapat digunakan kancing plastik kecil atau perekat plastik (velcro).
  13. Hindari hiasan kerutan (smock) di dada karena bila terlalu ketat akan menyesakkan dada.
  14. Khusus untuk renda pilihlah yang terbuat dari katun.
  15. Cucilah terlebih dahulu baju yang baru dibeli agar bahannya menjadi lembut dan terbebas dari kotoran.


TIPS PILIH BAJU BERDASARKAN USIA

BAYI 0-2 BULAN

Pada rentang usia ini bayi belum banyak bergerak. Hanya tergolek dan menggoyang-goyangkan tangan serta kakinya. Karena itu, dianjurkan memakai baju dengan model terusan yang mudah dilepas dan dipasang. Busana jenis ini kerap disebut sebagai baju monyet dengan tali atau kancing di bagian pundak. Atau, model terusan dengan kancing di bagian depan dan di bagian pantat untuk bagian bawahnya.

Pilihan lainnya terdiri dari 2 bagian yakni atasan dan bawahan. Khusus atasan, biasanya model kemeja tanpa kerah yang menggunakan kancing sehingga memudahkan dalam memakaikannya. Sedangkan bawahannya, untuk si Upik boleh rok atau celana.

BAYI 3-6 BULAN

Memasuki usia ini, bayi mulai bisa didudukkan. Pilihan bajunya lebih bervariasi lagi, tak harus yang memiliki kancing di depan. Model kaus atau blus dapat lebih mudah dipakaikan. Umumnya terdiri dari 2 bagian, yakni atasan dan bawahan.

BAYI 7-9 BULAN

Bayi sudah bisa duduk dan merangkak. Ia mulai senang bergerak terus tanpa henti. Untuk itu, model baju yang bisa dengan mudah dikenakan sangat dianjurkan. Guna mencegah luka di lutut akibat merangkak, ada baiknya pilihkan busana yang menutup lutut.

BAYI 10-12 BULAN

Kemampuan bayi semakin berkembang, yakni mulai belajar berdiri dan merambat atau belajar berjalan. Pilihkan baju yang nyaman agar dapat lebih leluasa bergerak. Disarankan memilih baju yang terdiri dari atasan dan bawahan.

Bayi pun mulai dapat mengenakan rok atau celana dengan aksesori. Bila ia berdiri, aksesori tersebut sudah terlihat. Umpamanya, kantong (saku), renda, model rok bertumpuk, dan lain-lain. Namun, patut diperhatikan agar aksesori tersebut tidak menghalangi geraknya dan aman bagi bayi.

Utami Sri Rahayu. Foto: Agus/nakita – http://www.tabloid-nakita.com

Narasumber dan koleksi:
Mothercare,
Mal Kelapa Gading 3 Lt 1, Jakarta

Leave a comment »

Cermat Pilih-pilih Gendongan

Gendongan bayi alias baby carrier (BC) jelas sangat membantu orang tua. Kini di pasaran banyak sekali BC yang ditawarkan. Akan tetapi, menurut Vijay Raghavalu, operations manager dari PT MultriTrend yang membahawahi Mothercare, hanya sedikit yang memenuhi kriteria BC yang aman, sehat, simpel, kuat, dan nyaman untuk bayi dan si penggendong.

Mengapa harus nyaman untuk kedua belah pihak? Tak lain karena BC adalah alat bantu untuk membawa bayi bepergian. “Dengan alat ini, ke mana orang tua ingin bepergian membawa bayi, bisa menjadi mudah dan ringan. Termasuk membawa bayi sambil bersepeda atau berkebun bisa terlaksana,” ujarnya.

BC yang nyaman tak akan membuat si penggendong merasa nyeri di pundak, tangan kesemutan, atau badan dan kaki pegal-pegal. Kuncinya, BC yang baik bisa membagi beban dengan sempurna sehingga bayi pun mau berlama-lama dalam gendongan yang nyaman ini.

Hal senada diiyakan oleh Dra. Ira Kusyairi, Dipl. PT, fisioterapis dari Klinik Pela 9 Jakata Selatan. “Memang, seringkali orang tua mengabaikan poin ini dalam memilih BC yang baik untuk anak. Padahal jika poin yang ini hilang, tentu BC yang kita miliki tidak akan (bisa) terpakai sampai kapan pun,” paparnya.

SYARAT UMUM BABY CARRIER

Nah, di bawah ini ada beberapa hal yang penting diperhatikan sebelum kita memutuskan membeli sebuah BC, sebagaimana disampaikan oleh Vijay dan Ira. Bahkan Vijay menegaskan, “Ingat, jangan mengutamakan dan mementingkan harga karena belum tentu yang mahal itu yang baik dan ideal!”

* AMAN

Syaratnya:

  1. Bahan yang digunakan harus lembut, tidak membuat bayi alergi, tidak membuat kulit bayi teriritasi atau lecet, dan harus bisa meredam benturan/impact.
  2. Bentuk harness (tali pengait) harus sesuai dengan tubuh si kecil.
  3. Bagian-bagian tubuh bayi yang belum kuat atau rentan, seperti leher, kepala, dan pinggang, mampu ditopang oleh BC dengan sempurna
  4. Sesuaikan dengan berat tubuh bayi. Setiap BC dibuat menurut kapasitas berat badan di usia bayi. Jika tidak sesuai, tentu BC tersebut tidak aman buat bayi; tiba-tiba talinya putus atau kainnya robek. Jadi jangan lupa baca keterangan dan petunjuk yang tertera pada kemasan, juga buku petunjuk.
  5. Pastikan BC tersebut minimal memiliki 5 poin sabuk yang akan mengikatkannya pada tubuh si penggendong.

* SEHAT

Hal ini berkaitan erat dengan bahan yang digunakan:

  1. Webbing (tali penyangga) yang digunakan tidak membuat si penggendong nyeri.
  2. Kain yang digunakan harus mampu menyerap keringat sekaligus panas tubuh bayi.
  3. Memiliki sirkulasi yang baik.
  4. Memiliki penadah (lap atau saputangan) gumoh atau air liur bayi.
  5. Empuk sehingga bayi tak mudah pegal dan betah di dalam BC.
  6. Bisa dicuci.

* SIMPEL

Di pasaran banyak beredar BC yang memenuhi dua kriteria di atas akan tetapi tidak memiliki keriteria yang satu ini. Tak heran si penggendong selalu kesulitan saat mengenakan BC, memasukkan bayi ke dalam BC, dan mengeluarkannya. Karena itulah, BC yang hendak kita beli harus benar-benar memenuhi kriteria berikut ini:

  1. Mudah dikenakan.
  2. Mudah memasukkan dan mengeluarkan bayi ke atau dari BC dalam hitungan detik.
  3. Mudah mengontrol keadaan bayi.
  4. Sangat baik jika BC tersebut juga memudahkan bayi menyusu ASI dari ibunya.

* KUAT

Pastikan BC yang kita beli benar-benar memerhatikan kualitas.

  1. BC tersebut memang benar mampu menopang berat badan bayi sesuai kapasitasnya dengan baik.
  2. Perlu diingat, sekuat dan seawet apa pun BC, pasti ada masa kedaluwarsanya. Sekalipun dia terlihat masih bagus dan layak pakai, tetapi karena faktor usia, maka BC tersebut sudah rapuh. Karena itu perhatikan dan tanya si penjual mengenai hal ini.
  3. Jahitannya harus benar. Paling baik dijahit di sisi luar dan dalam.

* SESUAIKAN DENGAN USIA BAYI

  1. Bayi usia 0-3 bulan tidak disarankan menggunakan BC model duduk. Paling baik untuk bayi usia ini adalah BC model tiduran. Bayi usia ini belum saatnya untuk didudukkan, terlebih lehernya belum bisa menopang beban kepalanya.
  2. Barulah setelah si bayi berusia 3-6 bulan boleh menggunakan BC model duduk, tetapi yang penempatannya di depan. Paling baik bayi diposisikan menghadap ke depan agar bayi bisa memandang lingkungan atau tempat dia berada dengan leluasa.
  3. Mulai usia 6 bulan ke atas, orang tua boleh menempatkannya dalam BC model gendong belakang.

TIP-TIP PENTING LAINNYA

Menurut Ira, masih ada beberapa hal penting lainnya yang harus kita perhatikan dalam memilih BC. Di antaranya:

  • Karena BC yang dijual di pasaran umumnya buatan negara-negara Barat, tak heran jika ukurannya disesuaikan dengan postur tubuh anak-anak kulit putih. Alhasil, sekalipun peruntukannya sesuai dengan berat badan anak kita, bisa saja si kecil “kelelep” saat berada di dalamnya. Jadi cobalah terlebih dahulu sebelum membeli BC yang baik.
  • Pilih BC yang memungkinkan anak bebas menggerakkan kepala, tangan, maupun kakinya.
  • Alangkah baiknya bila kita dapat menemukan BC berwarna-warni cerah yang mampu memberikan stimulasi pada bayi.
  • Jika ingin menggendong si kecil ke tempat-tempat bermain yang sedikit menantang, seperti ke pantai, kebun raya, atau taman nasional, jauh lebih baik gunakan BC dengan rangka, baik rangka dalam maupun luar. BC jenis ini memiliki bentuk yang kokoh dan bisa meredam guncangan akibat si penggendong aktif bergerak. Juga bisa menahan benturan yang mungkin terjadi pada si kecil.
  • Dalam kaitan dengan fashion, pilih BC yang pas buat diri kita. Kini ada BC yang dibuat dengan model atau corak feminin dan maskulin. Contoh, untuk pria bisa dipilih BC yang terkesan sporty, tidak banyak pernak pernik, simpel, dan bentuknya pun gagah.

MERAWAT BC

Menurut Vijay, sebaik apa pun BC yang kita miliki akan jadi percuma bila kita tidak bisa merawatnya dengan baik. “Biasakan selalu cek kondisi BC setelah digunakan,” anjurnya. Bila terkena noda makanan atau kotoran lainnya, segera bersihkan. “Jika noda tersebut tak hilang hanya dengan dilap, segera cuci sesuai dengan petunjuk mencuci yang tercantum dalam manual book.”

Cara menghilangkan noda dengan cara dilap juga membutuhkan teknik tersendiri. Kain lap yang digunakan harus bersih. Basahi dengan air, lalu usapkan pada permukaan BC secara searah alias tidak bolak-balik.

Boleh saja menggunakan sikat bila kotorannya memang membandel, tetapi sikat yang digunakan harus lembut. Sikat baju yang banyak dijual umumnya tidak direkomendasikan karena terlalu tajam dan keras, sehingga bisa merusak BC. Paling baik gunakan sikat gigi saja.

TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK ANAK “ISTIMEWA”

Tip-tip memilih BC yang baik seperti yang telah disebutkan, kata Ira, tidak direkomendasikan untuk bayi dengan kebutuhan khusus atau memiliki kasus tertentu, seperti kelainan pada kaki atau tulang belakang dan panggul, “Sebab, selain bisa memperparah kondisi si bayi, juga dapat membahayakannya.”

Namun, seperti apa BC yang cocok untuk bayi-bayi “istimewa” ini, menurut Ira, tak ada patokan umum. “Semuanya berdasarkan kondisi dan keadaan bayi.” Karena itu, anjurnya, sebelum memilih BC, konsultasikan dulu dengan ahlinya, fisioterapis dan dokter rehab medik.

GENDONGAN TRADISIONAL

Di balik maraknya BC modern, ternyata BC zaman kakek nenek kita dulu tak bisa dipandang sebelah mata. BC dari kain yang diikatkan ke punggung si penggendong, tak kalah baiknya dengan BC modern untuk menggendong bayi usia 0-3 bulan. “Malah untuk kenyaman bayi dan keamanannya, mungkin lebih aman gendongan ini karena kain gendongan bisa menyangga semua bagian tubuh bayi, terutama yang masih lemah,” jelas Ira.

Gazali Solahuddin. Foto: Iman/nakita http://www.tabloid-nakita.com

Leave a comment »

Saat Belajar Makan Saat Ceria

Menginjak usia 6 bulan
Inilah saat yang tepat untuk memperkenalkan makanan padat pada si kecil. Di usia ini, organ-organ pencernaan anak sudah lebih siap. Memperkenalkan makanan padat terlalu dini bisa menyebabkan terjadinya gangguan pencernaan atau alergi. Sementara bila terlambat, anak menjadi tak terlatih untuk mengunyah. Akibatnya, perkembangan rahang dan otot-otot mulut akan terlambat, dan mempengaruhi kemampuan anak untuk bicara. Anak yang jarang dilatih mengunyah, akan berpeluang lebih besar untuk mengalami kesulitan bicara.Perkenalkan makanan baru pada si kecil dengan penuh kesabaran, dan ajaklah dia berlatih untuk mengunyah. Ingat lho, pencernaan dimulai dari mulut karena waktu mengunyah itulah dihasilkan enzim-enzim yang akan berperan membantu lambung mengolah makanan. Bila pencernaan si kecil sehat, dia akan tumbuh lebih optimal.

Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi, makan juga merupakan sarana education dan entertainment untuk si kecil. Jadi, jangan bosan untuk selalu kreatif dalam menyiapkan menu terbaik agar si kecil selalu gembira saat mencicipi hidangan yang Anda sajikan untuknya. Melalui buklet “MEDUTAINMENT” ini diharapkan Anda bisa secara aktif merencanakan menu pilihan untuk si kecil, sekaligus merekam momen-momen bersejarah ketika ia mencicipi satu persatu beragam jenis makanan yang Anda perkenalkan padanya.

Miliki pencernaan sehat
Awali dengan baik
Anak perlu berkenalan dengan aneka makanan sehat sejak awal agar mampu mengembangkan selera makan yang lebih baik dan lebih beragam. Terapkan jadwal waktu makan dan camilan yang teratur agar anak tak terbiasa ngemil karena iseng. Sarapan yang baik akan menjadi dasar yang kuat untuk membantunya beraktivitas sepanjang hari.

Porsi kecil tapi sering
Bayi dan batita memerlukan separuh jumlah kalori yang dibutuhkan orang dewasa. Berhubung lambung mereka lebih kecil, mereka tak bisa makan sekaligus banyak. Jadi, mereka perlu makan lebih sering dibanding orang dewasa, dan mereka butuh makanan yang kaya akan energi. Makan yang teratur dan camilan yang sehat akan menjaga kestabilan kadar gula darah dan menyediakan energi yang cukup untuk beraktivitas.

Segar lebih baik
Buah dan sayuran segar sangat penting bagi kesehatan dan merupakan sumber yang kaya akan vitamin dan mineral. Meski mengandung sedikit energi, sayuran tinggi akan serat, yang berfungsi melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit atau susah buang air besar. Tapi, pilihlah sayuran yang kandungan seratnya tidak begitu tinggi karena perkembangan saluran pencernaan si kecil belum sempurna. Pemberian sayuran mentah juga tidak dianjurkan karena banyak zat-zat racun dalam sayuran segar bisa menghambat penyerapan zat gizi oleh usus si kecil yang enzim-enzim pencernaannya belum berkembang sempurna.

Hindari junkfood
Makanan-makanan berkualitas rendah yang tinggi lemak, manis-manis, atau mengandung pengawet dan penyedap rasa tak ada gunanya bagi tubuh. Makanan seperti itu justru akan mengacaukan kadar gula darah, dan merampas nutrisi penting untuk tubuh. Biasanya makanan ini sudah melalui proses panjang yang akibatnya justru mengikis kandungan gizinya. Makanan ini juga akan lebih susah dicerna, dan bahkan disinyalir menimbulkan risiko berbagai penyakit seperti kanker, jantung, dan diabetes.

Nutrisi itu penting
Bayi dan anak-anak memiliki kebutuhan istimewa akan protein selama masa pertumbuhan yang bisa diperoleh dari daging, ikan, ayam, telur, tempe, tahu dan kacang-kacangan. Mereka juga perlu kalsium untuk tumbuh menjadi lebih besar dan lebih kuat. Kebutuhan kalsium mereka lebih tinggi sebagai dasar bagi tulang yang sehat seumur hidupnya. Mereka juga perlu vitamin, mineral dan zat gizi penting yang ditemukan dalam makanan seimbang. Kekurangan zat besi, contohnya, bisa menyebabkan anemia (kurang darah) yang dapat menghambat perkembangan, daya konsentrasi lemah, rewel dan depresi.

Air, air, air!
Banyak anak seringkali ”lupa” minum, entah karena Anda lupa menyodorkan air putih untuknya, atau karena si anak sendiri terlalu asyik bermain. Padahal, air sangat diperlukan untuk memperlancar transportasi nutrisi penting ke seluruh bagian tubuh dan ke otak. Kekurangan air atau dehidrasi dapat menimbulkan rasa pusing, daya konsentrasi lemah, dan sembelit. Setelah lebih besar, mungkin anak juga akan lebih senang minuman manis atau berkarbonat. Tapi hati-hatilah untuk tidak memberi dia terlalu banyak minuman seperti itu. Kalau dia haus, cukup berikan air putih saja, minuman yang terbaik dibanding minuman-minuman lain.

Sumber : http://www.sahabatnestle.co.id

Leave a comment »

Play and Learn with Your Child..

Here’s a good link from Fisher Price about fun activities for you and your child. Varies from new born to 6 years old. Check it out !!!

Leave a comment »