Archive for 0-3 month

Jaundice/Kuning

Apakah jaundice itu?

Jaundice adalah warna kekuningan yang didapatkan pada kulit dan lapisan mukosa (seperti bagian putih mata) sebagian bayi baru lahir.1 Dalam bahasa Indonesia hal ini lebih sering disebut sebagai ‘bayi kuning’ saja. Istilah lain yang kadang digunakan adalah ikterik. Hal ini dapat terjadi pada bayi dengan warna kulit apapun.2

Bagaimana jaundice terjadi?

Warna kekuningan terjadi karena penumpukan zat kimia yang disebut bilirubin.2 Sel darah merah manusia memiliki waktu hidup tertentu. Setelah waktu hidupnya selesai, sel darah merah akan diuraikan menjadi beberapa zat, salah satunya bilirubin.1 Bilirubin ini akan diproses lebih lanjut oleh hati untuk kemudian dibuang sebagai empedu. Pada janin, tugas tersebut dapat dilakukan oleh hati ibu.2 Setelah lahir, tugas tersebut harus dilakukan sendiri oleh hati bayi yang belum cukup siap untuk memproses begitu banyak bilirubin sehingga terjadilah penumpukan bilirubin.1

Apakah jaundice berbahaya?

Sebagian besar jaundice tidak berbahaya. Namun pada situasi tertentu di mana kadar bilirubin menjadi sangat tinggi, kerusakan otak dapat terjadi.2 Hal ini terjadi karena walaupun secara normal bilirubin tidak dapat melewati pembatas jaringan otak dan aliran darah, pada kadar yang sangat tinggi pembatas tersebut dapat ditembus sehingga bilirubin meracuni jaringan otak.3 Keadaan akut pada minggu-minggu awal pasca kelahiran di mana terjadi gangguan otak karena keracunan bilirubin ini disebut sebagai ‘acute bilirubin encephalopathy’.4 Bila keadaan tersebut tidak diatasi, kerusakan otak dapat berlanjut menjadi kronik dan permanen menjadi suatu kondisi yang disebut ‘kernicterus’. Inilah alasan mengapa bayi baru lahir harus diperiksa dengan teliti untuk menilai ada tidaknya jaundice dan ditangani secara tepat jika ditemukan adanya jaundice.2
Bilirubin juga dapat menjadi sangat tinggi pada infeksi yang berat, penyakit hemolisis autoimun (penghancuran sel darah merah oleh sistem kekebalan tubuh sendiri), atau kekurangan enzim tertentu.

Bagaimana penilaian jaundice dilakukan?

Penilaian jaundice dilakukan pada bayi baru lahir berbarengan dengan pemantauan tanda-tanda vital (detak jantung, pernapasan, suhu) bayi, minimal setiap 8-12 jam.4 Salah satu tanda jaundice adalah tidak segera kembalinya warna kulit setelah penekanan dengan jari. Cara menilai jaundice membutuhkan cahaya yang cukup, misalnya dengan kadar terang siang hari atau dengan cahaya fluorescent.2 Jaundice umumnya mulai terlihat dari wajah, kemudian dada, perut, lengan, dan kaki seiring dengan peningkatan kadar bilirubin. Bagian putih mata juga dapat tampak kuning. Jaundice lebih sulit dinilai pada bayi dengan warna kulit gelap. Karena itu penilaian jaundice tidak dapat hanya didasarkan pada pengamatan visual. Jika ditemukan tanda jaundice pada 24 jam pertama setelah lahir, pemeriksaan kadar bilirubin harus dilakukan. Demikian pula jika jaundice tampak terlalu berat untuk usia tertentu bayi atau ada keraguan mengenai beratnya jaundice dari pengamatan visual.

Pemeriksaan kadar bilirubin dapat dilakukan melalui kulit (TcB: Transcutaneus Bilirubin) atau dengan darah (TSB: Total Serum Bilirubin).4 Kadar bilirubin yang diperoleh dari pemeriksaan ini dapat menggambarkan besar kecilnya risiko yang dihadapi si bayi, seperti terilustrasikan pada nomogram. 1

Bagaimana membedakan jenis jaundice?

  • Jaundice fisiologis (normal) dapat terjadi pada 50% bayi baru lahir.5 Tipe jaundice ini umumnya diawali pada usia 2-3 hari, memuncak pada hari 4-5, dan menghilang dengan sendirinya pada usia 2 minggu.
  • Jaundice karena ketidakcocokan rhesus atau golongan darah ibu dan bayi umumnya terjadi dalam 24 jam pertama setelah lahir.5 Tipe jaundice ini memiliki risiko besar untuk mencapai kadar bilirubin yang sangat tinggi. Ketidakcocokan rhesus ibu dan janin dapat terjadi jika ibu memiliki rhesus negatif sementara si janin memiliki rhesus positif. Di Indonesia, hal ini relatif jarang terjadi karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki rhesus positif. Di negara dengan proporsi rhesus negatif yang relatif besar, beberapa pemeriksaan dilakukan untuk mempersiapkan ibu dan bayi menghadapi kemungkinan ketidakcocokan rhesus. Setiap ibu hamil menjalani pemeriksaan golongan darah dan tipe rhesus.4 Jika pemeriksaan tersebut tidak dilakukan dalam kehamilan atau jika ibu memiliki rhesus negatif, maka saat kelahiran dilakukan pemeriksaan pada darah bayi untuk mengetahui golongan darah, rhesus, dan ada tidaknya antibodi yang dapat menyerang sel darah merah bayi.

Apakah ASI berhubungan dengan jaundice?

Jaundice lebih sering terjadi pada bayi yang memperoleh ASI dibanding bayi yang memperoleh susu formula. Ada dua macam jaundice yang dapat terjadi sehubungan dengan ASI:

  • Breastfeeding jaundice (5-10% bayi baru lahir)5: Hal ini terjadi pada minggu pertama setelah lahir pada bayi yang tidak memperoleh cukup ASI.6 Bilirubin akan dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk empedu yang dialirkan ke usus. Selain itu, empedu dapat terurai menjadi bilirubin di usus besar untuk kemudian diserap kembali oleh tubuh. Jika bayi tidak memperoleh cukup ASI, gerakan usus tidak banyak terpacu sehingga tidak banyak bilirubin yang dapat dikeluarkan sebagai empedu. Dan bayi yang tidak memperoleh cukup ASI tidak mengalami buang air besar yang cukup sering sehingga bilirubin hasil penguraian empedu akan tertahan di usus besar dan diserap kembali oleh tubuh.7 Selain itu kolostrum yang banyak terkandung pada ASI di hari-hari awal setelah persalinan memicu gerakan usus dan BAB. Karena itu, jika Anda menyusui, Anda harus melakukannya minimal 8-12 kali per hari dalam beberapa hari pertama.4 Dan penting untuk diperhatikan bahwa tidak pernah ada alasan untuk memberikan air atau air gula pada bayi untuk mencegah kenaikan bilirubin.
    Untuk menilai apakah bayi telah memperoleh asupan ASI yang cukup, ada beberapa hal yang dapat diperhatikan:4 Bayi yang memperoleh ASI tanpa suplemen apapun akan mengalami berkurangnya berat badan maksimal (< 10% berat lahir) pada usia 3 hari. Jika berat badan bayi berkurang ≥ 10% berat lahir pada hari ketiga, kecukupan ASI harus dievaluasi.
    Bayi yang memperoleh cukup ASI akan BAK dengan membasahi seluruh popoknya 4-6 kali per hari dan BAB 3-4 kali pada usia 4 hari. Pada usia 3-4 hari, feses bayi harus telah berubah dari mekonium (warna gelap) menjadi kekuningan dengan tekstur lunak.
  • Breastmilk jaundice (1% bayi baru lahir): Hal ini terjadi dalam akhir minggu pertama atau awal minggu kedua setelah lahir.6 Sebagian kecil ibu memiliki suatu zat dalam ASI mereka yang dapat menghambat pengolahan bilirubin oleh hati.6,7 Keadaan ini tidak memerlukan penghentian pemberian ASI karena tipe jaundice ini ringan dan sama sekali tidak pernah menimbulkan kernicterus atau bahaya lainnya. Tipe jaundice ini hanya memiliki sedikit sekali kenaikan bilirubin dan akan menghilang seiring dengan makin matangnya fungsi hati bayi pada usia 3-10 minggu. Secara umum, jaundice karena sebab apapun tidak pernah merupakan alasan untuk menghentikan pemberian ASI.

Kapan bayi harus diperiksa setelah meninggalkan RS/RB?

Sebelum meninggalkan RS/RB, risiko bayi mengalami hiperbilirubinemia harus dinilai. Penilaian ini oleh American Academy of Pediatrics disarankan dengan melakukan pengukuran kadar bilirubin (TSB atau TcB), penilaian faktor risiko, atau keduanya. Yang merupakan faktor risiko adalah:4

Faktor risiko mayor:

  • TSB atau TcB di high-risk zone
  • Jaundice dalam 24 jam pertama
  • Ketidakcocokan golongan darah atau rhesus
  • Penyakit hemolisis (penghancuran sel darah merah), misal: defisiensi G6PD yang dibutuhkan sel darah merah untuk dapat berfungsi normal
  • Usia gestasi 35-36 minggu
  • Riwayat terapi cahaya pada saudara kandung
  • Memar yang cukup berat berhubungan dengan proses kelahiran, misal: pada kelahiran yang dibantu vakum
  • Pemberian ASI eksklusif yang tidak efektif sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi, ditandai dengan penurunan berat badan yang berlebihan
  • Ras Asia Timur, misal: Jepang, Korea, Cina

Faktor risiko minor:

  • TSB atau TcB di high intermediate-risk zone
  • Usia gestasi 37-38 minggu
  • Jaundice tampak sebelum meninggalkan RS/RB
  • Riwayat jaundice pada saudara sekandung
  • Bayi besar dari ibu yang diabetik
  • Usia ibu ≥ 25 tahun
  • Bayi laki-laki

Jika tidak ditemukan satu pun faktor risiko, risiko jaundice pada bayi sangat rendah. Pemeriksaan bayi pertama kali setelah meninggalkan RS/RB adalah pada usia 3-5 hari karena pada usia inilah umumnya bayi memiliki kadar bilirubin tertinggi.4

Secara detail, jadwal pemeriksaan bayi setelah meninggalkan RS/RB adalah sebagai berikut:

  • Jika bayi meninggalkan RS/RB < usia 24 jam à pemeriksaan pada usia 72 jam (3 hari)
  • Jika bayi meninggalkan RS/RB pada usia antara 24 – 47,9 jam à pemeriksaan pada usia 96 jam (4 hari)
  • Jika bayi meninggalkan RS/RB pada usia antara 48 – 72 jam à pemeriksaan pada usia 120 jam (5 hari)

Pemeriksaan yang dilakukan harus meliputi:4

  • Berat badan bayi dan perubahan dari berat lahir
  • Kecukupan asupan ASI/susu formula
  • Pola BAK dan BAB
  • Ada tidaknya jaundice

Jika ada keraguan mengenai penilaian derajat jaundice, pemeriksaan kadar bilirubin harus dilakukan.4 Jika ada satu atau lebih faktor risiko, pemeriksaan setelah meninggalkan RS/RB dapat dilakukan lebih awal. Selain pemeriksaan kadar bilirubin, penyebab jaundice juga harus dicari.4 Misalnya dengan memeriksa kadar bilirubin terkonjugasi dan tidak terkonjugasi, melakukan urinalisis dan kultur urin jika yang meningkat terutama adalah kadar bilirubin terkonjugasi, melakukan pengukuran kadar enzim tertentu jika ada riwayat serupa dalam keluarga atau bayi menunjukkan tanda-tanda spesifik.

Bagaimana jaundice ditangani?

Sebagian besar jaundice adalah keadaan fisiologis yang tidak membutuhkan penanganan khusus selain dilanjutkannya pemberian ASI yang cukup. Namun pada keadaan tertentu, jaundice memerlukan terapi khusus yaitu terapi cahaya atau exchange transfusion.

TERAPI CAHAYA

Perlu tidaknya terapi cahaya ditentukan dari kadar bilirubin, usia gestasi (kehamilan) saat bayi lahir, usia bayi saat jaundice dinilai, dan faktor risiko lain yang dimiliki bayi, seperti digambarkan pada grafik 2.4

Beberapa faktor risiko yang penting adalah

  • Penyakit hemolisis autoimun (penghancuran sel darah merah oleh sistem kekebalan tubuh sendiri)
  • Kekurangan enzim G6PD yang dibutuhkan sel darah merah untuk berfungsi normal
    Kekurangan oksigen
  • Kondisi lemah/tidak responsif
  • Tidak stabilnya suhu tubuh
  • Sepsis (keadaan infeksi berat di mana bakteri telah menyebar ke seluruh tubuh)
  • Gangguan keasaman darah
  • Kadar albumin (salah satu protein tubuh) < 3.0 g/dL

Pada bayi yang menerima ASI yang harus menjalani terapi cahaya, pemberian ASI dianjurkan untuk tetap dilakukan. Namun ASI juga dapat dihentikan sementara untuk menurunkan kadar bilirubin dan meningkatkan efek terapi cahaya.

Selama terapi cahaya, beberapa hal ini perlu diperhatikan:

  • Pemberian ASI atau susu formula setiap 2-3 jam
  • Jika TSB 25 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 2-3 jam
  • Jika TSB 20-25 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 3-4 jam
  • Jika TSB <20 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 4-6 jam
  • Jika TSB terus menurun, ulangi pengukuran dalam 8-12 jam
  • Jika TSB tidak menurun atau meningkat menuju batas perlunya exchange transfusion, pertimbangkan exchange transfusion.

Pada penyakit hemolisis autoimun, pemberian -globulin (gamma globulin) direkomendasikan jika TSB tetap meningkat dengan terapi cahaya atau TSB berada 2-3 mg/dL dari batas perlunya exchange transfusion. Pemberian ini dapat diulangi dalam 12 jam. Pemberian -globulin dapat menghindari perlunya exchange transfusion pada bayi dengan ketidakcocokan rhesus atau golongan darah. Penghentian terapi cahaya ditentukan oleh usia bayi saat dimulainya terapi tersebut, kadar bilirubin, dan penyebab jaundice. Pada bayi yang diterapi cahaya setelah sempat dipulangkan dari RS/RB pasca kelahiran, terapi cahaya umumnya dihentikan jika kadar bilirubin sudah di bawah 13-14 mg/dl. Pengukuran ulang bilirubin setelah 24 jam penghentian terapi direkomendasikan terutama pada bayi dengan penyakit hemolisis atau bayi yang menyelesaikan terapi cahaya sebelum usia 3-4 hari.

EXCHANGE TRANSFUSION

Penanganan khusus lainnya yang mungkin diperlukan pada bayi dengan jaundice adalah exchange transfusion. Exchange transfusion adalah tindakan di mana darah pasien diambil sedikit demi sedikit dengan meningkatkan volume pengambilan pada setiap siklusnya, untuk kemudian digantikan dengan darah transfusi dengan jumlah yang sama.

Exchange transfusion dilakukan dengan segera pada bayi dengan gejala ‘acute bilirubin encephalopathy’ seperti meningkatnya ketegangan otot, meregangnya bayi dengan posisi seperti busur, demam, tangisan dengan nada tinggi, atau jika TSB ≥ 5 mg/dl di atas kurva yang sesuai. Jika kadar TSB berada pada level di mana exchange transfusion dibutuhkan atau ≥ 25 mg/dl, hal ini adalah keadaan gawat darurat dan harus segera ditangani.

dr. Nurul Itqiyah H on http://www.sehatgroup.web.id

Sumber
1.
www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001559.htm
2.
http://www.aap.org/family/jaundicefaq.htm
3.
http://www.cdc.gov/ncbddd/dd/kernicterus2.htm
4.
http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/full/114/1/297
5.
http://www.lpch.org/HealthLibrary/ParentCareTopics/NewbornQuestions/JaundicedNewborn.html
6.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003243.htm
7.
http://www.breastfeedingbasics.com/html/jaundice.shtml

Advertisements

Leave a comment »

Perilaku Bayi Baru Lahir

Kita tak perlu takut atau khawatir dengan perilaku si kecil yang baru lahir. Selama tak berlebihan, berarti wajar.

Jadi, normal saja, ya, Bu-Pak, kalau bayi baru lahir suka terkaget-kaget selagi tidur atau tersedak kala menyusu, misal. Namun tentunya, perilaku-perilaku tersebut akan berbeda antara bayi yang lahir normal dan sehat dengan bayi yang tak sehat atau tak normal.

Yang jelas, kata dr. Rinawati Rohsiswatmo, SpA. dari Subbagian Neonatologi, Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta, sejauh perilaku bayi masih dalam batas normal atau terjadi hanya sekali-kali saja, tak masalah. Tapi jika ada perilaku yang berlebihan atau keseringan dan terus-terusan, harus diwaspadai. “Mungkin saja ada sesuatu pada diri si bayi. Sebaiknya segera dibawa ke dokter untuk penanganan selanjutnya. Apalagi usia bayi masih sangat rentan,” tuturnya. Nah, berikut ini beberapa perilaku bayi baru lahir yang bisa diamati.

Menangis

Begitu lahir, bayi harus menangis. Ini merupakan reaksi pertama yang bisa dilakukan. Dengan menangis, otomatis paru-parunya berfungsi. Paru-paru akan membuka dan mengisap oksigen. Selain itu, menangis juga sebagai reaksi dari perubahan yang dialami si bayi. Ketika di kandungan, ia merasakan kehangatan dan kenyamanan; ia merasa terlindungi. Suasana di rahim pun gelap. Sementara begitu lahir, ia merasakan udara luar yang dingin dan ada cahaya terang. Perubahan ini disikapinya dengan menangis.

Itu sebab, jika setelah lahir bayi tak menangis, berarti tak normal. Biasanya, ia mengalami asfiksia, yaitu kurang masukan oksigen ke dalam tubuhnya.

Bahayanya, otak pun akan kekurangan oksigen hingga dapat merusak otak. Kejadian ini biasanya berkaitan dengan keadaan sejak di kandungan. Maka itu, bila ada sesuatu dengan kandungan ibu yang bermasalah, harus segera mendapat penanganan yang adekuat dan benar dari ahlinya. Ini untuk menghindari, salah satunya kejadian bayi tak menangis.

Ketika bayi menangis, anggota geraknya pun ikut aktif. Tangisan bayi yang sehat bila suaranya keras, bukan merintih atau melengking. Jika suara tangisannya merintih/melengking, pertanda ada sesuatu pada si bayi atau ia sakit.

Menangis pada bayi juga merupakan ungkapan ekspresinya. Bayi akan menangis lantaran minta perhatian, lapar, basah popoknya karena BAB/BAK, atau lainnya. Jadi, bayi menangis tak selalu berarti lapar.

Kaget

Bayi akan bereaksi seperti kaget. Ini merupakan refleks naluriah. Sejauh refleks ini tak berlebihan terjadinya, tak masalah. Bila ia kaget, biasanya tubuhnya bergerak semua. Gerakannya itu harus simetris semua, tak hanya sebagian tubuhnya saja yang bergerak. Kalau tidak, harus dicurigai ada sesuatu di otaknya. Segera periksakan ke dokter.

Gerak refleks ini bisa karena ia melihat cahaya yang menyilaukan atau lantaran ia sudah bisa mendengar suara/bunyi yang mengagetkannya. Itu sebab, jika bayi sedang tidur, biasanya orang di sekitarnya diminta untuk tak terlalu berisik.

Refleks ini masih boleh ada sampai usia 5 bulan. Jika setelah itu masih tetap ada, berarti tak normal, ada sesuatu pada diri si bayi hingga mesti dicari penyebabnya. Kemungkinan ada kerusakan di otaknya.

Bersin

Jika sesekali atau tak berlebihan, wajar saja. Sebenarnya, bersin pertanda ia ingin mengeluarkan sesuatu/kotoran dari hidungnya. Lagi pula hidung bayi itu sensitif; dengan bersin, lubang hidungnya dibersihkan. Jadi, bersin merupakan reaksi bayi untuk pertahanan tubuhnya. Selain itu, bersin bisa juga karena ia terekspos udara dingin.

Jadi, bersin tak selalu berarti bayi akan flu. Tapi jika keseringan, misal, tiap jam bersin, memang bisa jadi pertanda si bayi sakit. Mungkin ketularan pilek dari ibunya.

Karena itu, untuk menghindarinya dari sakit, jangan sering-sering menciumi si bayi. Bila di rumah ada orang dewasa yang sedang sakit, sebaiknya tak mencium bayi dan harus menggunakan masker.

Mengisap

Refleks ini merupakan refleks paling primitif untuk mempertahankan hidup. Lapar atau tidak, bila kita taruh jari di mulutnya, ia akan mencari dan membuka mulutnya dan jari tersebut akan diisapnya. Kemampuan inilah yang membuatnya bisa menyusu dan mendapatkan makanan.

Bila usia kehamilan ibu 34 minggu ke atas dan bayi dilahirkan di usia itu, sudah ada refleks mengisapnya. Jika refleks ini tak ada, berarti si bayi sakit, apakah infeksi atau sakit berat lainnya, semisal ada kerusakan otak hingga pusat yang mengatur refleksnya tak berfungsi.

Refleks mengisap akan terus ada sampai dewasa. Maka itu, adakalanya anak usia setahun pun masih suka mengisap ibu jarinya.

Tersedak

Normalnya di tenggorokan ada jalan napas dan jalan makanan atau kerongkongan. Jika bayi sedang minum/makan, jalan napasnya akan menutup. Pada bayi normal, lahir cukup bulan, dan sehat, ia punya refleks otomatis seperti itu. Jadi, bila kebanyakan minum, ia akan berhenti dulu, tak akan gelagapan tersedak sampai masuk ke paru-paru. Bayi bisa mengatur seberapa banyak harus mengisapnya. Jadi, jarang bayi tersedak.

Jika hanya sekali-kali tersedaknya tak apa-apa, asalkan jangan sampai masuk ke jalan napas dan menyebabkannya biru. Bila sampai tersedak pun ia punya refleks untuk membatukkan. Kecuali jika bayi dicekoki, kebanyakan bisa tersedak.

Pada bayi yang menyusu ASI, tak mungkin tersedak karena bayi mengisap dan memompa ASI sesuai isapannya. Tersedak justru lebih sering terjadi pada bayi yang minum susu botol. Terutama karena posisi dalam memberikan susu botol yang mungkin tak benar/tak hati-hati. Selain itu, susu akan menetes terus dari dotnya hingga bayi sulit mengatur isapannya. Akibatnya, jika kebanyakan netesnya, ia jadi gelagapan. Maka itu, dalam menyusui bayi, mata ibu tak boleh ke mana-mana, harus memperhatikan dengan baik apakah si bayi mengisapnya dengan enak atau tidak. Bila si bayi tersedak, hentikan dulu menyusunya, lalu angkat dan sendawakan.

Ada kelainan pada bayi yang membuatnya sering tersedak, misal, refleks isapnya tak ada karena ia sakit berat dan badannya lemah. Sebab, refleks tersebut akan timbul jika si bayi sehat. Karena refleksnya itu tak ada lalu dipaksa, hingga membuatnya tersedak. Seharusnya bayi-bayi seperti ini dipasangkan selang dari mulut ke lambungnya.

Bayi juga bisa tersedak karena kelainan anatomis, misal, fistula esophagus (ada lubang antara jalan napas dan jalan makan). Jadi, makanan/minuman yang masuk, sebagian masuk ke paru-paru hingga membuatnya tersedak. Kelainan ini harus diperbaiki dengan operasi.

Mengeluarkan air liur

Air liur diproduksi terus dan harus ditelan. Jika air liur keluar dari mulutnya hanya sekali-kali/tak berlebihan, itu normal. Nanti juga lama-lama hilang sendiri sejalan pertambahan usianya. Tapi, jika air liur sudah terlalu banyak dan berlebihan, berarti ada penyakit. Misal, ada atresia esophagus (buntunya saluran kerongkongan), hingga bayi tak bisa menelan dan produksi air liurnya berlebihan. Mengatasinya, dengan operasi. Biasanya kelainan ini harus dicurigai ada pada bayi bila ibunya dalam kehamilan mengalami polihidramnion atau air ketuban banyak atau yang orang bilang dengan hamil kembar air.

Buang air besar dan buang air kecil

Sebenarnya, bayi di kandungan sudah makan dan ususnya sudah bisa membentuk yang namanya kotoran. Itu sebab, umumnya bayi baru lahir dalam waktu 24 jam sudah BAB dan BAK. Jika dalam waktu 48 jam tidak BAB/BAK, berarti ada yang tak beres.

Kalau tidak BAB, mungkin ada sumbatan di jalan ususnya hingga kotoran tak bisa keluar. Bisa karena memang jalannya buntu atau karena kotoran yang sudah terbentuk di kandungan begitu keras (mekonium plak). Untuk mengeluarkannya, kotoran ini harus distimulasi dan ini dilakukan di RS.

Pada tiga hari pertama, kotoran bayi masih berwarna hitam kehijauan. Tapi lama-lama warnanya berubah jadi kuning. Pada bayi yang mendapatkan ASI, frekuensi BAB-nya lebih sering. Dalam sehari bisa sampai 10 kali, tapi hanya sedikit-sedikit. Jadi, kita tak perlu bingung dan menganggapnya diare. Yang penting bukan frekuensinya, tapi konsistensinya. Jika konsistensinya berupa cairan dan jumlahnya banyak, berarti diare.

Kalau tidak BAK, biasanya karena bayi sakit berat (syok) hingga aliran darah ke ginjal kurang. Dalam keadaan syok, aliran darahnya diutamakan ke otak dan jantung hingga aliran darah yang ke ginjal kurang. Bayi akan lebih sering BAK jika ia memang banyak minum. Atau, bisa juga karena udara dingin membuatnya lebih sering BAK. Bisa 10-12 kali ganti popok dalam sehari. Jika sudah BAK, otomatis cairan tubuhnya berkurang dan bayi pun akan minta minum kembali. Jadi berikan saja, tak perlu pakai jam-jaman.

Tangan dan kaki lebih sering menekuk

Ketika ditaruh dalam posisi telentang, biasanya tubuhnya tak lurus sama sekali, tapi menekuk di siku tangan dan lututnya. Tubuhnya pun lebih banyak bergerak. Posisi anggota gerak bayi normal ini, namanya fleksi. Mungkin posisi secara fisiologis ini seperti kala di kandungan, bayi dalam keadaan meringkuk.

Jadi, posisinya ini tak perlu dikhawatirkan, apalagi sampai membedongnya kuat-kuat dengan tujuan agar tubuhnya jadi lurus. Biarkan saja. Sebetulnya, bedong digunakan hanya agar bayi tak kedinginan.

Namun bila tubuhnya menekuk berlebihan, dalam arti menekuk sekali dan tampak kaku atau tak relaks, namanya spastis. Ini berarti ada saraf yang tak beres. Umumnya, setelah usia 5-6 bulan posisinya mulai tidur lurus. Tapi jika dari awal sudah lurus dan kaku, namanya ekstensi. Kemungkinan ada sesuatu di otaknya.

Melihat ke atas

Bayi baru lahir cuma bisa membedakan terang dan gelap, ada sinar atau tidak. Fungsi penglihatannya belum sempurna. Jadi, jika bayi tampak seolah sering melihat ke atas, sebenarnya bukanlah demikian. Itu hanya reaksi karena ada sinar yang membuatnya silau dan matanya tampak bergerak-gerak. Mungkin karena ia melihat bayangan saja atau sesuatu seperti bayangan yang bergerak. Usia 2 bulan penglihatannya masih kabur dan buram, ia tahu hanya ada bayangan. Setelah 4 bulan, barulah penglihatannya lebih jelas.

Perut sering tampak bergerak

Pernapasan bayi masih dominan dengan menggunakan otot perut. Itu sebab, otot perutnya akan bergerak. Setelah 6 bulan, pernapasannya berganti dengan otot dada. Maka itu, para ibu jangan memakaikan gurita/bedong pada bayinya. Sebab, pemakaian gurita/bedong tak hanya mengekang pergerakan dinding perut, tapi juga gerakan usus untuk mencerna makanan pun akan terganggu. Bahkan, makanan yang masuk bisa keluar alias muntah lagi. Bila khawatir si kecil kedinginan, sebaiknya jangan dibedong kuat-kuat, gunakan saja celana, popok dan kaos singlet. Biarkan bayi bernapas lega.

Gumoh/muntah

Tak apa-apa bayi gumoh. Itu bagian dari refleksnya. Apalagi jarak antara kerongkongan dan jalan nasofaring ini pendek, hingga mudah terjadi gumoh. Gumoh pertanda bayi kebanyakan minum atau sudah kenyang. Lambung bayi itu kecil, jika makanan/minumannya terlalu banyak akan membuatnya gumoh.

Bila gumoh terus-terusan, kita tak boleh berpikir terlalu jelek seperti halnya muntah. Mungkin saja karena kita mencekoki si bayi susu terus. Apalagi kadang bila bayi menangis, umumnya ibu akan menjejalkan mulut si bayi dengan susu. Padahal, mungkin saja si bayi tak lapar, tapi pipis atau hanya ingin digendong. Tak apa-apa juga bila gumoh keluar lewat hidung, selama bayi tak tampak biru. Jika sampai biru dan tersedak, artinya sudah masuk ke jalan napas.

Kita harus bisa membedakan antara gumoh dan muntah. Gumoh keluar begitu saja dari mulut dan sedikit. Sedangkan muntah, ada tekanan negatif dari perut mendorong diafragma. Jika muntahnya hanya sekali, mungkin bisa dipikirkan kekenyangan. Tapi jika muntahnya lebih dari 3 kali atau setiap minum muntah, mungkin ada obstruksi/sumbatan, baik di sekitar lambung atau lebih ke bagian bawahnya. Jika demikian, harus dibawa ke dokter. Kalau ternyata ada obstruksi, harus dilakukan operasi.

Tidur

Dalam sehari, bayi baru lahir bisa tidur sampai 18 jam. Bangunnya hanya untuk minum, lalu tidur lagi. Secara perlahan, makin usia bertambah, waktu tidurnya akan berkurang atau makin sedikit.

Bayi kalau perutnya kenyang, badan kering dan hangat, ia akan tidur. Kalau tidak, ia gelisah. Ada juga bayi-bayi yang susah tidurnya, berarti termasuk bayi rewel atau ada sesuatu yang dirasanya atau sakit. Lebih ekstremnya, jika bayi banyak tak tidurnya alias melotot terus, ia akan sangat aktif, bertemperamen tinggi, seperti mengamuk, dan sebagainya. Biasanya bayi seperti ini karena ada keracunan dari sang ibu, misal, ibunya pecandu narkoba. Harus ditangani dokter untuk pengobatannya.

Saat ditidurkan, sebaiknya bayi tak ditaruh telentang tapi menyamping agar jika muntah tak akan ditelannya. Bayi bisa memilih sendiri posisi tidurnya yang dirasakannya nyaman.

Menguap

Normal, jika bayi sesekali menguap, bisa berarti ia mengantuk. Tapi, jika sebentar-sebentar menguap atau sering, bisa termasuk dalam salah satu sindrom keracunan obat-obatan, misal, dari ibu yang pecandu narkotika. Harus ditangani dokter untuk pengobatannya.

Menggeliat

Menggeliat berarti menggerakkan otot-ototnya. Normal, kok, karena ia belum bisa tengkurap atau membalikkan badannya, maka gerakannya hanya sebatas menggeliat.

Bayi memang harus banyak bergerak. Di kandungan saja, bayi banyak menendang-nendang. Hanya, seberapa banyak/aktifnya bergerak, sangat individual sifatnya, entah bayi laki atau perempuan. Justru kalau bayi diam saja, harus dicurigai, berarti ada sesuatu atau sakit.

Tersenyum

Orang tua dulu mengatakan, jika bayi tersenyum berarti sedang tersenyum dengan saudaranya atau malaikat. Sebenarnya, senyumnya itu tak berarti apa-apa. Apalagi bayi belum bisa melihat dengan jelas, masih berupa bayangan saja. Bayi tersenyum sekadar reaksinya menggerakkan otot-otot wajahnya.
Dedeh Kurniasih.

Comments (2) »

Manfaat dan Bahaya Bedong Pada Bayi

Bedong bayi merupakan hal yang tak asing lagi bagi kita, meskipun pada kenyataannya kita tak tahu apa kegunaan dari membedong bayi dan apa bahayanya jika tidak dipakaikan dengan hati-hati. 

Manfaat Bedong Bayi
Membedong bayi bukan hanya bermanfaat untuk menghangatkan bayi namun juga mengurangi resiko terjadinya SIDS atau kematian mendadak pada bayi saat tidur. Dengan membedongnya, bayi akan berada pada posisi terlentang saat tidur. Bedong bayi dapat dilakukan dari semenjak anak lahir hingga mereka bisa menggulingkan badannya.

Yang harus anda perhatikan tidak semua bayi merasa nyaman dibedong. Jika bayi anda terus berontak saat dibedong, pilihlah alternatif lain dengan memakaikan sleeping bag bayi, yang mempunyai fungsi yang sama dengan bedong.

Sebaiknya anda tidak membedong bayi anda jika anda dan bayi masih sharing tempat tidur. Membedongnya justru akan membuatnya merasa kepanasan (yang diketahui bisa menyebabkan SIDS).

Bagaimana Cara Membedong bayi
Ada banyak cara untuk membedong bayi, namun 6 langkah dibawah ini adalah yang paling populer (lihat gambar):

 

Pakaian yang harus dipakai saat bayi dibedong
Pakaikan bayi anda busana sesuai dengan musim dan iklim disekitarnya, dan jangan biarkan kain bedong menutupi mulut atau kepalanya.

Saat cuaca sedang panas, pakaikan bayi anda hanya selimut dan popok agar mereka tidak merasa kepanasan, sebaliknya jika cuaca dingin, pakaikan mereka jumpsuit ringan. Hindari memakaikan baju yang berbahan tebal atau selimut. Pastikan bedongan anda tidak menutupi kepala, telinga, dan dagu, karena akan menghalangi pernapasan mereka dan meyebabkan kepanasan.

(Source:http://raisingchildren.net.au)

Quoted  from www.kafebalita.com

Leave a comment »

Hernia Pada Bayi

HERNIA pada bayi dan anak dapat terjadi pada beberapa bagian tubuhnya, antara lain di pelipatan paha, umbilikus atau pusar, sekat rongga dada, dan perut (disebut diafragma) serta bagian-bagian lainnya. Yang umum terlihat langsung adalah hernia pada umbilikus atau pusar, serta pada pelipatan paha karena dapat langsung ke kantung buah pelir.

Pada dasarnya, hernia pada bayi dan anak-anak terdapat perbedaan cara terjadinya dengan hernia orang dewasa dan orang tua. Pada bayi dan anak, hernia terjadi karena tidak tertutupnya beberapa lubang yang pernah ada semasa bayi dalam kandungan. Sebelum atau sesudah bayi lahir seharusnya lubang-lubang tersebut menutup, namun pada bayi dan anak yang mengalami hernia hal ini tidak terjadi.

Hernia pada bayi dan anak seringkali tidak memberikan keluhan sebelum terjadi komplikasi. Umumnya, adanya benjolan di tempat-tempat tersebut seringkali tidak mendapatkan perhatian dari orang tua bayi dan anak karena tidak menimbulkan keluhan dan masalah untuk bayi dan anak tersebut, kecuali orang tua yang sangat sensitif dan sangat perhatian pada bayi dan anaknya.

Keluhan yang paling sering, para orang tua pasien melihat dan meraba adanya benjolan pada umbilikus (pusar) atau pelipatan paha maupun kantong buah pelir pada anak laki-laki. Hernia pada pelipatan paha umumnya diketahui orang tua pasien setelah benjolannya besar dan memberikan rasa sakit pada bayi dan anak tersebut. Gejala lainnya timbul berupa sakit atau nyeri pada daerah terjadinya hernia akibat terjepitnya isi kantong hernia tersebut. Jika yang terjepit usus, maka gejala yang terlihat lebih hebat berupa muntah, perut kembung, gangguan berak dan lain-lainnya. Pada bayi dan anak wanita, seringkali yang terjepit di dalam kantung hernia adalah indung telur sehingga bayi dan atau anak tampak kesakitan bahkan dapat mengalami syok karena rasa sakit.

Hernia umbilikus yang tanpa komplikasi umumnya dapat tertutup sendiri pada usia anak lebih besar, sekitar usia 2-5 tahun, namun selama itu pusar atau umbilikus akan kelihatan menonjol besar sehingga secara kosmetis orang tua pasien menganggap itu suatu masalah. Pengobatan pada hernia umbilikalis dengan pembedahan diperlukan jika lubang yang terjadi ukurannya 2 cm atau lebih, karena tidak mungkin akan menutup sendiri. Atau, jika hernia sampai anak usia sekolah, maka dapat dilakukan pembedahan berencana.

Pembedahan
Pada hernia pelipatan paha, pembedahan merupakan terapi yang terbaik, begitu hernia ini telah ditegakkan diagnosisnya. Kalau hernia ini mengalami komplikasi, terjadi tanda-tanda terjepitnya isi kantong hernia, maka pembedahan harus dilakukan segera dengan persiapan minimal untuk menyelamatkan organ yang terjepit dalam kantong hernia.

Risiko pembedahan segera ini cukup tinggi, baik risiko dari segi pembedahan maupun pembiusan. Dengan demikian, jika terdapat hernia pada pelipatan paha bayi dan anak-anak, pembedahan berencana sudah harus dipersiapkan tanpa memperhatikan usia dan berat badan bayi dan atau anak. Karena, pembedahannya sendiri merupakan tindakan untuk memutus hubungan rongga perut dengan kantong hernia.

Yang menjadi pertimbangan, apakah pembiusan umum dapat dilakukan terhadap bayi dan anak tersebut. Pada hernia pelipatan paha anak dengan usia lebih dari satu tahun — jika kondisi pasien dan fasilitas rumah sakit memungkinkan — dapat dilakukan pembedahan tanpa rawat inap.

Pembedahan hernia pada bayi dan anak-anak sekarang ini telah dapat dilakukan karena fasilitas dan tenaga untuk pembedahan dan pembiusan umum telah tersedia. Pembedahan pun dapat dilakukan pada usia yang lebih dini dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan syarat-syarat pembedahan dengan pembiusan umum. Keterlambatan atau penundaan pembedahan akan memberikan risiko teknis pembedahan menjadi lebih sulit dan kemungkinan terjadi komplikasi. Komplikasi ini terutama pada hernia pelipatan paha dan hernia kantung buah pelir pada bayi dan anak laki-laki, berupa terjepitnya isi kantong hernia dengan segala konsekwensinya.

Beberapa kasus hernia pelipatan paha sering dikelirukan dengan hidrokel suatu benjolan di daerah pelipatan paha atau kantong buah pelir akibat penumpukan cairan yang dapat berasal dari rongga perut. Hidrokel ini, karena isinya cairan, umumnya akan diserap secara perlahan sehingga benjolan di daerah itu menghilang pada usia tertentu. Jika hidrokel ini menetap atau membesar dengan cepat, maka tindakan pembedahan untuk memutus hubungan antara rongga perut dengan kantong hidrokel harus dilakukan agar tidak terjadi pengaruh lain terhadap perkembangan buah pelir bayi dan anak.

Dengan demikian, jika bayi dan anak Anda terlihat atau teraba ada benjolan di daerah pusar dan dilipatan pahanya, sebaiknya dikonsultasikan ke tempat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penilaian dan penjelasan lebih lanjut. Hal ini bisa mencegah keterlambatan dalam penanganan dan terjadinya komplikasi.

dr. I Nyoman Sukerena,
Spesialis Bedah Anak

Comments (2) »

Jeli Pilih Baju Bayi

Bayi tak butuh busana orang dewasa dalam bentuk mini. Namun, bayi juga perlu tampil keren dan gaya, bukan?

Bayi masih memiliki keterbatasan gerak, sehingga yang dibutuhkan adalah baju-baju yang simpel dan terbuat dari bahan-bahan yang menyerap keringat. Nah, agar tak salah memilihkan baju untuk si kecil, ikuti panduannya:

  1. Pilihlah ukuran yang pas dengan ukuran tubuh bayi. Bayi yang gemuk akan sulit bergerak jika menggunakan baju yang sempit.
  2. Sesuaikan baju dengan iklim dan cuaca saat itu.
  3. Untuk Indonesia yang beriklim tropis, pilihlah baju dari bahan-bahan yang menyerap keringat dan halus seperti katun atau kaos, sehingga tidak menimbulkan iritasi pada kulit.
  4. Hindari pemakaian bahan sintetis semacam polyester karena tidak menyerap keringat. Keringat yang berlebihan dapat menyebabkan ruam kulit dan tidak nyaman.
  5. Pilih model baju yang simpel dan sesuai dengan tubuhnya yang masih kecil, sehingga baju tersebut tidak menghalangi gerakan-gerakan si bayi. Utamakan fungsi daripada model. Misal, untuk bayi yang mulai merangkak dapat dikenakan celana panjang guna melindungi lututnya.
  6. Perhatikan tinggi tubuh bayi yang sudah bisa merangkak. Hindari memilihkan baju atau celana yang kepanjangan karena dapat membahayakan saat merangkak.
  7. Perhatikan posisi label baju. Posisi label yang baik adalah yang letaknya jauh dari kulit bayi (misalnya, di samping). Sehingga label tersebut tidak akan bergesek dengan kulit saat bayi bergerak. Bayi pun akan terhindar dari iritasi kulit.
  8. Perhatikan aksesori atau hiasan yang terdapat pada baju.
  9. Perhatikan bentuk kerah baju. Kerah yang terlalu sempit dan terlalu tebal akan membuat bayi merasa tidak nyaman.
  10. Hindari penggunaan karet elastis karena memiliki daya rekat yang lebih kuat. Sebagai penggantinya dapat digunakan benang karet yang daya rekatnya lebih lembut.
  11. Hindari pengunaan mote-mote sebagai hiasan karena bayi kerap menggigiti bagian bajunya.
  12. Hindari kancing yang terbuat dari metal, biasanya kerap terdapat pada celana atau overall berbahan jins. Sebagai gantinya dapat digunakan kancing plastik kecil atau perekat plastik (velcro).
  13. Hindari hiasan kerutan (smock) di dada karena bila terlalu ketat akan menyesakkan dada.
  14. Khusus untuk renda pilihlah yang terbuat dari katun.
  15. Cucilah terlebih dahulu baju yang baru dibeli agar bahannya menjadi lembut dan terbebas dari kotoran.


TIPS PILIH BAJU BERDASARKAN USIA

BAYI 0-2 BULAN

Pada rentang usia ini bayi belum banyak bergerak. Hanya tergolek dan menggoyang-goyangkan tangan serta kakinya. Karena itu, dianjurkan memakai baju dengan model terusan yang mudah dilepas dan dipasang. Busana jenis ini kerap disebut sebagai baju monyet dengan tali atau kancing di bagian pundak. Atau, model terusan dengan kancing di bagian depan dan di bagian pantat untuk bagian bawahnya.

Pilihan lainnya terdiri dari 2 bagian yakni atasan dan bawahan. Khusus atasan, biasanya model kemeja tanpa kerah yang menggunakan kancing sehingga memudahkan dalam memakaikannya. Sedangkan bawahannya, untuk si Upik boleh rok atau celana.

BAYI 3-6 BULAN

Memasuki usia ini, bayi mulai bisa didudukkan. Pilihan bajunya lebih bervariasi lagi, tak harus yang memiliki kancing di depan. Model kaus atau blus dapat lebih mudah dipakaikan. Umumnya terdiri dari 2 bagian, yakni atasan dan bawahan.

BAYI 7-9 BULAN

Bayi sudah bisa duduk dan merangkak. Ia mulai senang bergerak terus tanpa henti. Untuk itu, model baju yang bisa dengan mudah dikenakan sangat dianjurkan. Guna mencegah luka di lutut akibat merangkak, ada baiknya pilihkan busana yang menutup lutut.

BAYI 10-12 BULAN

Kemampuan bayi semakin berkembang, yakni mulai belajar berdiri dan merambat atau belajar berjalan. Pilihkan baju yang nyaman agar dapat lebih leluasa bergerak. Disarankan memilih baju yang terdiri dari atasan dan bawahan.

Bayi pun mulai dapat mengenakan rok atau celana dengan aksesori. Bila ia berdiri, aksesori tersebut sudah terlihat. Umpamanya, kantong (saku), renda, model rok bertumpuk, dan lain-lain. Namun, patut diperhatikan agar aksesori tersebut tidak menghalangi geraknya dan aman bagi bayi.

Utami Sri Rahayu. Foto: Agus/nakita – http://www.tabloid-nakita.com

Narasumber dan koleksi:
Mothercare,
Mal Kelapa Gading 3 Lt 1, Jakarta

Leave a comment »

Cermat Pilih-pilih Gendongan

Gendongan bayi alias baby carrier (BC) jelas sangat membantu orang tua. Kini di pasaran banyak sekali BC yang ditawarkan. Akan tetapi, menurut Vijay Raghavalu, operations manager dari PT MultriTrend yang membahawahi Mothercare, hanya sedikit yang memenuhi kriteria BC yang aman, sehat, simpel, kuat, dan nyaman untuk bayi dan si penggendong.

Mengapa harus nyaman untuk kedua belah pihak? Tak lain karena BC adalah alat bantu untuk membawa bayi bepergian. “Dengan alat ini, ke mana orang tua ingin bepergian membawa bayi, bisa menjadi mudah dan ringan. Termasuk membawa bayi sambil bersepeda atau berkebun bisa terlaksana,” ujarnya.

BC yang nyaman tak akan membuat si penggendong merasa nyeri di pundak, tangan kesemutan, atau badan dan kaki pegal-pegal. Kuncinya, BC yang baik bisa membagi beban dengan sempurna sehingga bayi pun mau berlama-lama dalam gendongan yang nyaman ini.

Hal senada diiyakan oleh Dra. Ira Kusyairi, Dipl. PT, fisioterapis dari Klinik Pela 9 Jakata Selatan. “Memang, seringkali orang tua mengabaikan poin ini dalam memilih BC yang baik untuk anak. Padahal jika poin yang ini hilang, tentu BC yang kita miliki tidak akan (bisa) terpakai sampai kapan pun,” paparnya.

SYARAT UMUM BABY CARRIER

Nah, di bawah ini ada beberapa hal yang penting diperhatikan sebelum kita memutuskan membeli sebuah BC, sebagaimana disampaikan oleh Vijay dan Ira. Bahkan Vijay menegaskan, “Ingat, jangan mengutamakan dan mementingkan harga karena belum tentu yang mahal itu yang baik dan ideal!”

* AMAN

Syaratnya:

  1. Bahan yang digunakan harus lembut, tidak membuat bayi alergi, tidak membuat kulit bayi teriritasi atau lecet, dan harus bisa meredam benturan/impact.
  2. Bentuk harness (tali pengait) harus sesuai dengan tubuh si kecil.
  3. Bagian-bagian tubuh bayi yang belum kuat atau rentan, seperti leher, kepala, dan pinggang, mampu ditopang oleh BC dengan sempurna
  4. Sesuaikan dengan berat tubuh bayi. Setiap BC dibuat menurut kapasitas berat badan di usia bayi. Jika tidak sesuai, tentu BC tersebut tidak aman buat bayi; tiba-tiba talinya putus atau kainnya robek. Jadi jangan lupa baca keterangan dan petunjuk yang tertera pada kemasan, juga buku petunjuk.
  5. Pastikan BC tersebut minimal memiliki 5 poin sabuk yang akan mengikatkannya pada tubuh si penggendong.

* SEHAT

Hal ini berkaitan erat dengan bahan yang digunakan:

  1. Webbing (tali penyangga) yang digunakan tidak membuat si penggendong nyeri.
  2. Kain yang digunakan harus mampu menyerap keringat sekaligus panas tubuh bayi.
  3. Memiliki sirkulasi yang baik.
  4. Memiliki penadah (lap atau saputangan) gumoh atau air liur bayi.
  5. Empuk sehingga bayi tak mudah pegal dan betah di dalam BC.
  6. Bisa dicuci.

* SIMPEL

Di pasaran banyak beredar BC yang memenuhi dua kriteria di atas akan tetapi tidak memiliki keriteria yang satu ini. Tak heran si penggendong selalu kesulitan saat mengenakan BC, memasukkan bayi ke dalam BC, dan mengeluarkannya. Karena itulah, BC yang hendak kita beli harus benar-benar memenuhi kriteria berikut ini:

  1. Mudah dikenakan.
  2. Mudah memasukkan dan mengeluarkan bayi ke atau dari BC dalam hitungan detik.
  3. Mudah mengontrol keadaan bayi.
  4. Sangat baik jika BC tersebut juga memudahkan bayi menyusu ASI dari ibunya.

* KUAT

Pastikan BC yang kita beli benar-benar memerhatikan kualitas.

  1. BC tersebut memang benar mampu menopang berat badan bayi sesuai kapasitasnya dengan baik.
  2. Perlu diingat, sekuat dan seawet apa pun BC, pasti ada masa kedaluwarsanya. Sekalipun dia terlihat masih bagus dan layak pakai, tetapi karena faktor usia, maka BC tersebut sudah rapuh. Karena itu perhatikan dan tanya si penjual mengenai hal ini.
  3. Jahitannya harus benar. Paling baik dijahit di sisi luar dan dalam.

* SESUAIKAN DENGAN USIA BAYI

  1. Bayi usia 0-3 bulan tidak disarankan menggunakan BC model duduk. Paling baik untuk bayi usia ini adalah BC model tiduran. Bayi usia ini belum saatnya untuk didudukkan, terlebih lehernya belum bisa menopang beban kepalanya.
  2. Barulah setelah si bayi berusia 3-6 bulan boleh menggunakan BC model duduk, tetapi yang penempatannya di depan. Paling baik bayi diposisikan menghadap ke depan agar bayi bisa memandang lingkungan atau tempat dia berada dengan leluasa.
  3. Mulai usia 6 bulan ke atas, orang tua boleh menempatkannya dalam BC model gendong belakang.

TIP-TIP PENTING LAINNYA

Menurut Ira, masih ada beberapa hal penting lainnya yang harus kita perhatikan dalam memilih BC. Di antaranya:

  • Karena BC yang dijual di pasaran umumnya buatan negara-negara Barat, tak heran jika ukurannya disesuaikan dengan postur tubuh anak-anak kulit putih. Alhasil, sekalipun peruntukannya sesuai dengan berat badan anak kita, bisa saja si kecil “kelelep” saat berada di dalamnya. Jadi cobalah terlebih dahulu sebelum membeli BC yang baik.
  • Pilih BC yang memungkinkan anak bebas menggerakkan kepala, tangan, maupun kakinya.
  • Alangkah baiknya bila kita dapat menemukan BC berwarna-warni cerah yang mampu memberikan stimulasi pada bayi.
  • Jika ingin menggendong si kecil ke tempat-tempat bermain yang sedikit menantang, seperti ke pantai, kebun raya, atau taman nasional, jauh lebih baik gunakan BC dengan rangka, baik rangka dalam maupun luar. BC jenis ini memiliki bentuk yang kokoh dan bisa meredam guncangan akibat si penggendong aktif bergerak. Juga bisa menahan benturan yang mungkin terjadi pada si kecil.
  • Dalam kaitan dengan fashion, pilih BC yang pas buat diri kita. Kini ada BC yang dibuat dengan model atau corak feminin dan maskulin. Contoh, untuk pria bisa dipilih BC yang terkesan sporty, tidak banyak pernak pernik, simpel, dan bentuknya pun gagah.

MERAWAT BC

Menurut Vijay, sebaik apa pun BC yang kita miliki akan jadi percuma bila kita tidak bisa merawatnya dengan baik. “Biasakan selalu cek kondisi BC setelah digunakan,” anjurnya. Bila terkena noda makanan atau kotoran lainnya, segera bersihkan. “Jika noda tersebut tak hilang hanya dengan dilap, segera cuci sesuai dengan petunjuk mencuci yang tercantum dalam manual book.”

Cara menghilangkan noda dengan cara dilap juga membutuhkan teknik tersendiri. Kain lap yang digunakan harus bersih. Basahi dengan air, lalu usapkan pada permukaan BC secara searah alias tidak bolak-balik.

Boleh saja menggunakan sikat bila kotorannya memang membandel, tetapi sikat yang digunakan harus lembut. Sikat baju yang banyak dijual umumnya tidak direkomendasikan karena terlalu tajam dan keras, sehingga bisa merusak BC. Paling baik gunakan sikat gigi saja.

TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK ANAK “ISTIMEWA”

Tip-tip memilih BC yang baik seperti yang telah disebutkan, kata Ira, tidak direkomendasikan untuk bayi dengan kebutuhan khusus atau memiliki kasus tertentu, seperti kelainan pada kaki atau tulang belakang dan panggul, “Sebab, selain bisa memperparah kondisi si bayi, juga dapat membahayakannya.”

Namun, seperti apa BC yang cocok untuk bayi-bayi “istimewa” ini, menurut Ira, tak ada patokan umum. “Semuanya berdasarkan kondisi dan keadaan bayi.” Karena itu, anjurnya, sebelum memilih BC, konsultasikan dulu dengan ahlinya, fisioterapis dan dokter rehab medik.

GENDONGAN TRADISIONAL

Di balik maraknya BC modern, ternyata BC zaman kakek nenek kita dulu tak bisa dipandang sebelah mata. BC dari kain yang diikatkan ke punggung si penggendong, tak kalah baiknya dengan BC modern untuk menggendong bayi usia 0-3 bulan. “Malah untuk kenyaman bayi dan keamanannya, mungkin lebih aman gendongan ini karena kain gendongan bisa menyangga semua bagian tubuh bayi, terutama yang masih lemah,” jelas Ira.

Gazali Solahuddin. Foto: Iman/nakita http://www.tabloid-nakita.com

Leave a comment »

Bathing Your Baby

Mempersiapkan Mandi sang Bayi

  • Selalu rencanakan ritual mandi bayi anda. Pastikan semuanya siap sebelum mulai memandikan bayi. Ini akan membikin lebih mudah dan aman.
  • Kalau anda bisa, turunkan suhu airnya sampai 40 derajad celsius. Ini membikin bayi lebih nyaman. Isilah bak mandinya dengan aer hangat. Selalu test airnya terlebih dahulu dengan lengan atau siku anda. Airnya haruslah hangat dan nyaman, bukan panas.
  • Pastikan segala keperluan buat mandi tersedia. Anda bisa menyediakan sabun lembut, bola-bola kapas dan sebuah popok bersih di wadahnya masing-masing. Lalu bawalah wadah yan gsudah berisi peralatan mandi itu dengan handuk dan kain pembilas ke ruangan dimana anda akan memandikan bayi. Kalau semuanya sudah siap, ambillah bayi anda.
  • Kalau anda kelupaan suatu barang, anda harus membawa bayi anda untuk mengambil barang yang kelupaan itu. Ini agak susah untuk dilakukan apalagi kalau bayinya masih licin dan basah.
  • Jangan pernah meninggalkan bayi anda sendiri di bak mandi.
  • Sebaiknya tidak usah menjawab telpon masuk atau dering bel di pintu selagi anda memandikan anak. Kalaupun anda mau lakukan itu, ambil bayi anda dan bawa juga bersama anda. Jika pasangan anda, famili atau teman-teman anda sering menelpon anda, kasih tahu mereka jam-jam anda memandikan bayi. Katakan pada mereka bahwa anda tidak akan menjawab telpon atau membukakan pintu selama jam-jam tersebut.

Memandikan Bayi Anda

  • Bayi anda pertama-tama akan memrlukan spons pembasuh. Mandikan bayi anda dengan spons pembasuh yang lembut terlebih dahulu sebelum puput tali pusernya atau sembuh luka sunatnya (kalau ada). Setelah itu barulah bayi anda boleh memakai bak mandi.
  • Isi sebuah ember besar atau wadah air yang besar dengan air hangat: gunakan pergelangan tangan ataupun siku anda untuk memastikan suhu yang tepat. Pastikan airnya tidak terlalu dingin ataupun panas. Air yang masih panas akan sangat berbahaya.
  • Ambil ember air hangat dan sebuah pembasuh lembut di tempat dimana anda akan memandikan bayi anda.
  • Ambil tempat buat memandikan bayi yang bersuhu hangat dan jangan di tempat yang banyak anginnya. Tentunya anda tidak mau bayi anda kedinginan. Anda bisa menaruh bayi anda di handuk mandi di permukaan yang datar. Jika anda menaruh bayi anda di atas meja, pastikan tidak akan menggelinding. Jangan tinggalkan bayi anda sendirian sedetik pun, ingat itu!
  • Copot pakain bayi anda. Celupkan pembilas mandi di air hangat dan peres sampai hanya terasa basah saja. Gunakan pembasuh lembut yang sudah basah itu untuk membasuh tubuh bayi anda dengan pelan dan lembut. Bilas kepala dan lehernya, belakang telinga, dan diantara jari tangan maupun kaki.
  • Bayi yang baru lahir tidak perlu mandi setiap hari. Cukup bersihkan mukanya, leher dan area perpopokan jikalau mereka kotor.
  • Anda bisa menggunakan bathtub anda, kitchen sink atau bak mandi bayi dari plastik. Gunakan sesuatu untuk membersihkan dan mengelap bak mandi bayi anda biar tidak mudah tergelincir atau kepleset. Jika anda menggunakan busa buat membersihkan bak mandi bayi, itu perlu sering-sering dikeringkan tiap kali selesai digunakan. Ini berguna untuk mencegah perkembangbiakan kuman dan bakteri. Atau anda bisa mengeringkan bak mandi bayi dengan handuk kering. Pastikan cuci dan keringkan handuk itu tiap kali selesai digunakan.
  • Gunakan lap pembasuh bayi yang bersih, tanpa sabun, untuk membasuh mukanya. Basuhlah bagian luar dan dalam di tiap-tiap kupingya dan bilas dan keringkan lehernya juga.
  • Jangan pernah menggunakan sabun busa atau detergen di air mandi bayi karena bisa menyebabkan ruam dan kulit mengelupas.
  • Gunakan bola-bola kapas ataupun cotton pads untuk membersihkan mata bayi anda sebelum menaruhnya di bak mandi. Pastikan anda tahan bagian kepala bayi ketika di dalam bak mandi.
  • Basuhlah rambut bayi anda dan bilas dengan penuh kelembutan, gunakan sabun dan shampo khusus bayi. Kerjakan hal ini hanya sekali atau dua kali seminggu saja. Bialslah dengan kain basah. Pastikan tidak ada busa sabun yang masuk mata bayi anda. Basuhlah badannya, dumulai dari bagian dada. Setelah dibersihkan dengan kain lembut, bilaslah kain itu dan gunakan sekali lagi untuk membilas bayi. Keringkan bayi anda dengan handuk kering lembut dan bersih. Selalu pastikan dia tertutup. Pastikan bayi anda selalu hangat dan kering dengan menyelimutinya dengan handuk bersih setelah dimandikan.

 http://dranak.blogspot.com

Leave a comment »