Ada apa di balik perilaku suka-suka bayi?

Rasa senang mengamati proses tumbuh kembang bayi tak jarang disertai rasa tegang. Biasanya terjadi ketika bayi melakukan eksplorasi yang dianggap menjengkelkan. Maklumlah, si kecil mulai ingin bereksperimen; menuang-nuang air, mengacak-acak tumpukan baju, atau menyobek buku. Tak sedikit orangtua yang ingin segera menghentikannya. Padahal, selain anak belum paham mana benar mana salah, banyak sekali manfaat dari perilaku “periset” cilik ini. Mau tahu?

1. MENYEMBUR-NYEMBURKAN MAKANAN

Dilakukan oleh bayi yang sudah kenal makanan padat. Peralihan dari makanan cair ke makanan padat membutuhkan proses adaptasi. Ada beberapa hal yang dirasakan bayi dari makanan barunya ini, antara lain tekstur, rasa, dan rupa. Manfaatnya, ia belajar tentang tekstur makanan. Kondisi ini membuat bayi tergerak rasa ingin tahunya untuk bereksperimen dengan makanan itu. Jadilah, makanan itu disembur-sembur. Karena dirasa mengasyikkan, bayi pun akan mengulang-ulang tindakan itu.

Kebiasaan ini memang kurang baik, karena mungkin ada kebutuhan zat nutrisi bayi yang tidak terpenuhi seluruhnya. Namun, Anda tak perlu kesal apalagi menganggap si kecil berperilaku buruk. Atasi dengan memberi penjelasan; makanan haruslah dikunyah dan ditelan, jangan disembur-sembur. Lakukan berulang-ulang dan sabar. Tiap bayi butuh proses yang berbeda-beda untuk mengenal makanan.

Selain itu, orangtua juga harus melihat motif lain di balik perilaku. Jangan-jangan si kecil sudah kenyang. Kalau demikian, jangan paksa ia menghabiskan porsi yang diberikan. Aturlah porsi yang pas baginya. Sebab lain, ia menolak makanan karena tidak suka rasanya. Jadwal pemberian makanan juga harus diatur dengan cermat agar bayi bisa berselera saat makan. Termasuk jadwal minum susu dan makan makanan selingan.

2. MELEMPAR-LEMPAR BARANG

Entah berapa banyak barang di rumah yang rusak akibat dilempar si kecil. Hari ini botol susu, besok kacamata ibu. Perilaku ini biasanya dilakukan bayi pada usia 6 bulan ke atas. Terjadi karena rasa penasaran bayi akan hubungan sebab akibat. Bila benda itu dilempar, akankah benda itu mengeluarkan bunyi, memantul, atau rusak?

Sikapi perilaku ini dengan melihat situasi dan kondisi. Jika benda yang dilemparnya berbahaya atau berharga, orangtua harus cepat menghentikannya dengan tegas tetapi tak perlu dengan nada marah. Larangan juga berlaku jika si bayi selalu melempar benda ke arah orang lain.

Lain halnya jika yang dilempar mainannya sendiri ke arah yang tidak membahayakan. Biarkan saja seraya memberi penjelasan apa akibatnya setelah barang itu dilempar. Selama tidak membahayakan, biarkan bayi melihat dan memegangnya. Jelaskan pula konsekuensinya; jika mainan itu rusak, dia tidak bisa bermain dengannya lagi. Memang, saat itu bayi tidak langsung menangkap pesan yang disampaikan, tetapi pesan yang diulang-ulang akan direkam secara terus-menerus dan menjadi acuan nilai saat berperilaku kelak.

Orangtua seharusnya dapat memberikan mainan alternatif yang aman tapi menarik, misalnya bola kecil yang dapat digenggam bayi. Kalau perlu mainan ini mampu mengeluarkan bunyi saat mengenai lantai. Permainan lempar-lempar benda sarat manfaat karena bisa melatih kemampuan motorik anak, memberi pemahaman proses sebab akibat, dan gaya gravitasi bumi.

3. MENGACAK-ACAK BAJU

Perilaku bayi 6 bulan ke atas ini mungkin sama mengesalkannya. Kala duduk di samping tumpukan baju yang telah dirapikan, dengan enaknya ia menariknya satu per satu. Setelah itu, dia akan meninggalkan baju yang berserakan. Tidak ada rasa bersalah. Ini juga bentuk eksplorasi bayi terhadap baju. Aneka bentuk, motif, variasi gambar dan warna membuat bayi tertarik menyentuhnya.

Tentu tak perlu memarahinya. Ajaklah si kecil merapikan kembali tumpukan baju tersebut. Beri penjelasan, benda yang diacaknya adalah baju. Jika diacak-acak jadi kusut dan sulit dimasukkan ke dalam lemari. Lakukan penjelasan berkali-kali sambil si bayi dikenalkan pada warna-warna baju yang ada. Meskipun belum mengerti dan cenderung akan mengulangi lagi perbuatannya, kelak bayi akan paham tentang pentingnya kerapian.

4. MENUANG-NUANG AIR

Kebiasaan ini dilakukan hampir semua bayi. Sejak berumur 9 bulan ia senang menuangkan cairan ke lantai atau ke media lainnya. Entah itu air minumnya, susu dari botol, atau air dari ember mandinya. Dari aktivitas menuang, bayi belajar proses sebab akibat. Dia akan segera tahu, air bisa dipindahkan ke media lain dan menjadikannya basah. Apakah itu mainannya, seprai, sofa, lantai, atau benda lain di sekitarnya. Dia pun bisa meminum air atau susu dari benda-benda seperti gelas.

Saat si kecil berbuat demikian, cobalah terlibat di dalamnya seraya memberi penjelasan, misalnya, air kotor yang diminum bisa membuatnya sakit. Atau, air itu bisa membuat lantai basah, licin, dan membuatnya terpeleset. Dengan begitu, bayi mulai belajar konsekuensi dari sebuah perilaku. Alihkan kegiatannya ke media yang tepat untuk melatih keterampilan motorik dan koordinasi gerak tangan anak.

5. MEMBONGKAR MAINAN

Tidak heran, jika mainan baru si bayi yang hanya berumur satu-dua hari saja. Membongkar mainan dapat dilakukan bayi laki-laki maupun perempuan sejak ia berumur 7 bulan. Ia ingin tahu lebih dekat mainan itu, apa saja yang ada di dalamnya, bagaimana kalau salah satu bagian ditarik atau dicopot. Karenanya, hindari mainan yang terdiri atas partikel-partikel kecil dan gampang tertelan karena bayi juga bereksplorasi dengan memasukkan benda kecil ke dalam mulutnya.

Meski begitu, kemampuan membongkar benda jelas sangat bermanfaat. Jadi, berikan mainan mainan aman yang dapat dibongkar pasang seperti “donat susun” atau pasel berkeping tunggal. Sertakan penjelasan ketika bermain bersama bayi tentang bagaimana menyusun kembali mainan yang sudah dibongkar, warnanya, bentuknya, gambarnya, namanya, dan sebagainya. Dengan bimbingan seperti ini, bayi belajar memecahkan masalah secara tuntas.

6. MEMBUANG-BUANG MAKANAN DAN KOSMETIK

Sejak berumur 6 bulan, bayi juga senang mengacak-acak susu bubuk, menaburkan bedak ke atas mainannya, atau menggunakan minyak telon untuk sang boneka. Hal yang bisa dilakukan adalah melakukan tindakan pencegahan. Letakkan benda-benda itu di luar jangkauan bayi sehabis digunakan. Jika telanjur dipakai si kecil, orangtua bisa memberikan penjelasan fungsi benda-benda tersebut, susu untuk dicampur air dan diminum, bedak hanya dipakai untuk tubuh bukan untuk mainan, dan minyak telon hanya untuk menghangati tubuhnya bukan tubuh boneka. Saat itu mungkin si bayi cuek saja, tapi percayalah lambat laun ia akan memahaminya.

7. MENYOBEK BUKU, MAJALAH, KORAN

Banyak orangtua kesulitan membacakan dongeng pada bayi karena ia cenderung merampas buku dan mungkin menyobeknya. Koran dan majalah kepunyaan orangtua pun biasanya ikut rusak. Penyebabnya mungkin rasa ingin tahu atau malah rasa bosan. Memang, tidak semua bayi betah dibacakan cerita, terutama jika si pendongeng terdengar membosankan. Jadinya ia berulah sambil juga ingin tahu bagaimana jadinya jika halaman buku itu dirobek, digigit, dan diremas.

Mengatasinya bukan dengan menjauhkan bayi dari buku. Biarkan ia akrab dengan benda yang satu ini dan teruskan kegiatan mendongeng dan membahas isi secara menarik untuk menumbuhkan minat bacanya. Untuk itu, sediakan buku dari bahan kain atau kertas papan yang tidak mudah disobek. Pilih buku bertema pengenalan bentuk, warna, besar-kecil, jauh-dekat, aktivitas sehari-hari di rumah dengan tokoh hewan atau anak sebayanya, atau dongeng-dongeng sederhana. Selipkan pesan, jika buku itu dirusak ia tidak bisa lagi melihat gambar-gambarnya. Untuk koran dan majalah, orangtua bisa meletakkannya di luar jangkauan si kecil seusai dibaca.

8. MENCORAT-CORET

Sejak berusia 9 bulan, bayi sudah bisa memegang benda ramping, termasuk krayon, kuas, spidol, dan bolpoin meski belum sempurna. Saat tahu benda yang dipegangnya meninggalkan jejak begitu digoreskan, ia akan terus berkreasi membuat goresan-goresan lain. Dia menganggap semua benda yang ada bisa dicorat-coretnya. Tidak hanya buku gambar, tapi juga tembok, sprei, baju, bahkan bagian tubuhnya sendiri seperti kaki dan tangan.

Orangtua tak perlu melarang kebiasaan ini karena sangat membantu mengasah keterampilan motorik halus bayi. Yang bisa dilakukan adalah membatasi lahan corat-coretnya dan menghindarkan anak dari alat tulis yang tajam bahkan beracun. Sediakanlah media coret yang cukup luas di dinding dan lantai agar ia puas. Pembatasan ini tidak membuat kreativitas anak terganggu. Kegiatan corat-coret, juga mengasah kreativitasnya.

sumber: nakita

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: