Dukung Si Kecil Belajar!

Apa saja yang bisa dilakukan seorang ayah dalam mendukung pendidikan saat si anak mulai sekolah?

Menemani belajar

Jika biasanya ayah membaca koran sendiri, sekarang membacalah bersama Si Kecil yang sedang belajar atau mengerjakan PR. Ayah tak harus melihat satu persatu PR-nya, kok. Keberadaan ayah sudah mendorong anak untuk lebih serius belajar.

Ada beberapa ayah yang suka mengeluh, “Kehadiran saya saja sudah menakutkan karena saya tidak tahan untuk tidak memarahi anak.” Kalau begitu, jangan marah! Menurut Henny, sejak awal orangtua seharusnya sudah menjadikan situasi belajar merupakan proses yang menyenangkan. Dengan kehadiran ayah saja si anak sebenarnya sudah tergugah untuk belajar lebih serius dan anak seolah-olah difasilitasi dalam proses belajar. Jika perlu bertanya, ada ayah.

Beberapa contoh sikap yang membuat proses belajar tidak menyenangkan adalah anak dipaksa untuk belajar, mesti duduk dengan baik, dan kalau tidak mengerjakan PR akan dimarahi atau dipukul. “Padahal seringkali orangtuanya cuma asal suruh, tidak terlibat lebih jauh, dan tidak menunjukkan minat lebih terhadap kegiatan belajar anak.”

Memberi contoh

Saat menemani anak belajar, sebaiknya ayah membaca sesuatu yang baik, seperti buku dan koran. Intinya, menunjukkan bahwa membaca itu merupakan suatu hal yang menyenangkan. Boleh-boleh saja membaca media hiburan tetapi hal itu bisa bikin anak cemburu. “Jelas saja Papa fun, bacaannya begitu, sih,” begitu komentar yang mungkin muncul. Karena itu, pilih bacaan yang agak “berat” dan serius. Supaya anak melihat dan berpikir, “Wah, penderitaanku ditemani ayah. Bacaan ayah juga serius.”

Memantau jam belajar

Hal ini dilakukan agar anak tahu bahwa dia punya jam belajar, dan belajar sesuai jam yang ditentukan. Saran Henny, buat kontrak belajar antara ayah dan anak supaya anak lebih serius dalam belajar.

Jika ayah melihat si anak konsisten, rajin, dan serius dalam belajar sehingga menghasilkan nilai yang baik, tak ada salahnya memberi penghargaan atau reward. Semisal jika anak selalu dapat nilai 8, ayah bisa memberi hadiah yang bermutu, seperti buku.

Menghibur dan Mendampingi

Anak mengalami kegagalan, itu biasa. Ketika anak gagal, bukan berarti kegagalan itu yang harus ditumpas, apalagi sampai anak dipukul atau dihukum. Justru di sini peran ayah besar, yaitu memberikan penghiburan dan menggugah anak supaya tetap belajar.

Coba hibur dengan kalimat seperti, “Nilaimu sekarang mungkin jelek, itu karena kamu belum terlalu mengerti. Sekarang belajar lagi. Mana yang susah? Ayo kita lihat sama-sama.”

Izinkan anak gagal. Tetapi kita juga mesti melihat, kalau dia sudah berusaha sungguh-sungguh, tidak apa-apa dia gagal. Sebaliknya, jika dia belum berusaha, ya diberi punishment yang intinya untuk mendisiplinkan dan mendidik bagaimana caranya supaya dia bisa lebih berhasil. Misalnya, anak malas belajar karena keseringan main play station (PS) atau nonton teve. Coba menyita PS-nya atau menetapkan jadwal nonton teve.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: