Relaktasi

Butuh Waktu dan Kesabaran

Anda dapat kembali menyusui si kecil setelah sempat atau terpaksa ‘istirahat’ dari kegiatan laktasi. Namun, ada beberapa hal yang sebaiknya Anda ingat, agar proses relaktasi tersebut berjalan lancar.

Ada kalanya, seorang ibu yang sedang dalam masa laktasi, menghentikan pemberian ASI kepada bayinya selama rentang waktu tertentu karena berbagai alasan. Misalnya saja, karena ibu yang bersangkutan menderita sakit yang membutuhkan tindakan operasi, atau harus tugas ke luar negeri. Namun, setelah beberapa waktu, baik itu hanya berselang seminggu atau bahkan beberapa bulan kemudian, timbul keinginan dalam diri si ibu untuk dapat menyusui kembali bayinya. Keinginan tersebut dapat diwujudkan dengan melakukan upaya atau proses yang dikenal dengan istilah relaktasi.

Butuh waktu

Perlu diketahui, selama masa ‘istirahat’ dari kegiatan menyusui, produksi ASI mungkin menjadi jauh berkurang, atau bahkan sempat terhenti. Nah, pada saat ibu hendak menyusui kembali, tubuhnya, terutama seluruh organ yang terlibat dalam proses produksi ASI, membutuhkan waktu untuk ‘mempersiapkan diri’, agar dapat meningkatkan atau menghasilkan ASI kembali seperti semula.

Waktu yang dibutuhkan oleh tubuh seorang ibu dalam rangka relaktasi tersebut berbeda-beda. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh lamanya menghentikan pemberian ASI, motivasi dari ibu yang bersangkutan, dan perangsangan terhadap proses produksi dan pengeluaran ASI melalui isapan bayi pada puting dan sebagian besar areola. Semakin pendek waktu menghentikasn pemberian ASI, semakin kuat motivasi ibu, dan semakin sering serta rutin perangsangan yang dilakukan oleh bayi, maka semakin cepat waktu relaktasi yang dibutuhkan oleh ibu.

Selain itu, ibu-ibu yang selama masa ‘istirahat’ laktasi masih sesekali menyusui bayinya, juga akan membutuhkan waktu relaktasi yang lebih cepat daripada ibu-ibu yang berhenti menyusui sama sekali. Jadi, bila golongan pertama mungkin membutuhkan waktu relaktasi beberapa hari saja, maka golongan kedua mungkin perlu waktu relaktasi antara 1 hingga 2 minggu. Mengingat hal itu, Anda yang sedang melakukan relaktasi sebaiknya tidak mudah putus asa, bila ternyata waktu yang Anda butuhkan jauh lebih lama dari yang Anda perkirakan sebelumnya.

Ada kemauan, pasti ada jalan

Jujur pada diri sendiri mengenai apa motivasi atau alasan sesungguhnya yang mendorong Anda untuk melakukan relaktasi, berperan besar dalam menentukan keberhasilan yang akan Anda raih. Jadi, sebelum memutuskan untuk melakukan relaktasi, sebaiknya Anda bertanya kepada diri sendiri. Misalnya, apakah karena Anda akan merasa bahagia dan puas bila si kecil mendapatkan zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya dari ASI Anda daripada dari susu formula? Atau, apakah ada alasan lain? Bila Anda sudah tahu apa motivasi Anda melakukan relaktasi, maka Anda akan lebih siap, dan langkah-langkah relaktasi yang Anda lakukan akan lebih terarah.

Relaktasi dapat Anda mulai dengan melatih si kecil untuk melakukan stimulasi (rangsangan) pada puting susu Anda. Caranya, dengan membiasakannya untuk mengisap puting susu Anda sekalipun ASI Anda belum keluar, atau sudah keluar tetapi masih sangat sedikit. Agar ia tidak marah, siapkanlah sebelumnya susu, atau bila mungkin ASI perah, untuk diberikan padanya. Anda dapat melakukannya dengan menggunakan, suplemental nursing system (ASI perah dimasukkan ke dalam suatu wadah lalu dialirkan melalui selang kecil yang ujungnya ditempelkan pada puting), cangkir, atau sendok bayi. Lakukanlah stimulasi ini secara teratur dan sesering mungkin, sesuai dengan datangnya rasa lapar bayi. Selain itu, upayakanlah agar tidak ada gangguan selama Anda menyusuinya. Dengan demikian, konsentrasi Anda dan bayi tidak buyar.

Selain itu, bersiap-siaplah untuk menghadapi stres yang mungkin akan Anda alami selama minggu-minggu pertama relaktasi. Karena, ASI yang Anda hasilkan biasanya masih sangat sedikit jumlahnya, dan tidak sebanding dengan kebutuhan si kecil. Akibatnya, si kecil mungkin akan terus-menerus menyusu dari waktu ke waktu. Hal itu tentu akan melelahkan Anda. Tidak ada salahnya bila Anda meminta dukungan mental dari orang-orang di sekitar Anda, selain suami. Misalnya, dokter, konsultan laktasi, atau teman Anda yang pernah melakukan upaya serupa dan telah meraih keberhasilan.

Selama relaktasi, jangan lupa untuk meningkatkanlah konsumsi protein dan cairan dalam menu makan Anda sehari-hari. Hal ini perlu untuk membantu mempercepat tubuh dalam memproduksi ASI. Selain itu, jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan istirahat Anda.

Umumnya, Anda akan lebih mudah melakukan relaktasi bila umur si kecil masih sekitar 4-6 minggu daripada bila si kecil sudah berumur 3 bulan, atau bahkan lebih dari 6 bulan. Hal ini antara lain karena frekuensi menyusu bayi-bayi yang usianya lebih tua umumnya lebih jarang, dan produksi ASI sudah tidak mencukupi seluruh kebutuhan gizinya lagi. Namun, apa pun kendala yang Anda hadapi, asal kemauan Anda kuat, pasti ada jalan keluarnya. Memang, relaktasi membutuhkan waktu, dan menuntut kesabaran Anda sebagai ibu.

Dewi Handajani (Ayahbunda-online.com)

Konsultasi ilmiah: dr. Rulina Suradi, Sp.A(K), IBCLC, Bagian Ilmu kesehatan Anak, FKUI, RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: